• 22

    Nov

    Nasionalisme Herbal

    Hari Rabu lalu saya ketemu Pak Junius Rahardjo, pendiri dan CEO Javaplant yang merupakan produsen ekstrak herbal terbesar di negeri ini. Ngobrol dengan Pak Junius, di tengah-tengah suasana Hari Pahlawan, semangat nasionalisme dan kepahlawanan saya menjadi menggelora. Bagaimana tidak, ngobrol ngalor-ngidul selama sekitar dua jam, kita ngomongin bagaimana Indonesia bisa menjadi bangsa besar dan mandiri melalui kekayaan keanekaragaman hayati. Omongan Pak Junius yang sarat nasionaisme perlu didengar. Ya, karena ia sudah membuktikan diri, melalui Javaplant, membawa produk herbal Indonesia perkasa menembus pasar mancanegara. “Sekitar 90% produk saya menghasilkan dolar,” ujarnya. Yang dijual Pak Junius adalah ekstrak herbal yang bahan dasarnya tersedia melimpah di bumi
    Read More
  • 4

    Nov

    Grup WA

    Hidup saya praktis sudah tertawan oleh grup WA (WhatsApp). Bagaimana tidak, waktu Subuh saat ayam berkokok, lima notifikasi WA sudah kedip-kedip minta dihampiri. Pagi saat di kantor di sela-sela meeting, tangan selalu menggerayangi HP sibuk pencet sana-sini untuk melayani obrolan teman grup. Siang dan sore hari saat ketemu klien tetap saja tangan sesekali curi-curi geser-geser layar sentuh HP untuk melihat update celotehan teman-teman grup. Malam apalagi… it’s WA time, saatnya berbagi cerita dengan seluruh teman grup hingga tengah malam bahkan menjelang pagi. Aktivitas keseharian tetap berjalan lancar, walaupun “WA time” terus hadir di sela-sela aktivitas tersebut. Saat ngobrol dengan seluruh anggota keluarga di ruang tamu, jari-jemari tetap bergerilya memenceti
    Read More
  • 18

    Oct

    Village Biopreneur

    Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan teman-teman dari Divisi CSR (Corporate Social Responsibility) Bank BCA, di bawah payung Program Bakti BCA dan para aktivis komunitas. Ada mas Sapto Rachmadi Kepala Divisi CSR BCA, mas @kemalgani, @handokoH, @dididiarsa, @hastjarjobw, @eritasantosa, dan lain-lain. Kita ngobrol santai mengenai program pemberdayaan desa untuk menjadikan desa sebagai pusat kegiatan ekonomi yang menarik sehingga warganya tidak kepincut pindah ke kota. Kebetulan sejak beberapa tahun terakhir Divisi CSR BCA melakukan pendampingan di desa wisata Goa Pindul Gunung Kidul sehingga menjadi kasus menarik untuk kita obrolkan. Goa Pindul merupakan magnet bagi wisatawan karena goa ini memiliki dasar berupa sungai dan mengandung stalagtit terbesar keempat d
    Read More
  • 20

    Sep

    Strategy in Crisis

    Minggu lalu saya membagi konsumen di masa krisis menjadi empat jenis, yaitu: Panickers, Bargainers, Floaters, dan Wisers. Empat jenis konsumen ini memiliki profil dan karakteristik yang berbeda berdasarkan persepsi mereka mengenai tingkat keamanan hidup (life security) di masa krisis dan respons mereka terhadap datangnya krisis. Minggu ini giliran saya memberikan strategi dan tips bagaimana mengarap empat jenis konsumen tersebut. Consumers in CrisisSebagai pengingat, ada baiknya jika saya sedikit memberikan rangkuman ciri-ciri dari empat jenis konsumen tersebut. Panickers adalah konsumen yang secara ekonomi merasa tak aman di masa krisis dan menyikapi bencana krisis dengan reaktif, panik (saking bingungnya), dan tak rasional. Konsumen jenis ini cenderung mengetatk
    Read More
  • 10

    Sep

    Consumer in Crisis

    Rupiah dibantai habis oleh dolar dan yuan. Ekonomi melambat. PHK menghantui buruh dan pekerja. Cabe mahal. Daya beli terpangkas. Dan yang tak kalah meresahkan, obrolan di WA pekat berisi isu simpang-siur mengenai bakal ambruknya perekonomian Indonesia. Hopeless dan pesismisme ini menjalar bak virus menghasilkan self-fulfiling prophecy yang kian menciutkan nyali kita menghadapi krisis. Ini ujung-ujungnya akan membentuk vicious cycle yang kian menghempaskan ekonomi kita ke titik nadir.     Vicious CycleYa, begitulah perekonomian. Maju-mundurnya ditentukan oleh optimis atau hopeless-nya konsumen dan pelaku ekonomi. Ketika semua orang optimis, maka mereka akan membelanjakan uangnya atau menginvestasikan duitnya. Investasi dan konsumsi yang besar akan mendorong perusahaan tumbuh dan
    Read More
  • 5

    Sep

    Bioekonomi

    Di tengah rupiah yang kian tak berdaya dibantai Yuan dan Dolar saat ini, kesalahan semua ditumpukan pada impor kita. Semua-semua diimpor. iPhone terbaru diimpor. Mesin-mesin untuk PLTU Batang yang baru diresmikan diimpor. Bahan baku untuk pabrik obat diimpor. Itu barangkali masih dimaklumi. Namun rupanya daging sapi, beras, cabe, susu, kedelai, terasi, hingga garam pun ikutan diimpor. Tak masuk akal memang, negara dengan laut begitu luas dan memiliki garis pantai salah satu yang terpanjang di dunia kok bisa-bisanya garamnya impor. Tak Berdaulat Terus terang, gara-gara sedang mengerjakan riset dan menulis buku mengenai life science dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, saya menjadi sensitif dengan persoalan ini. Bukunya berjudul “Life Science for Life” yang re
    Read More
  • 17

    Aug

    Branding Tujuh Belasan

    Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, tak hanya Jokowi yang sibuk berpidato di hadapan wakil rakyat atau pejabat negara yang melakukan upacara bendera di Istana Negara. Brand pun sibuk meyambut hari kemerdekaan dengan melakukan kampanye branding. Tujuannya dua. Pertama membangun citra dan reputasi yang baik sebagai warganegara (corporate citizenship). Kedua, agresif jualan dengan membesut beragam program sales promotion berlatar momentum hari kemerdekaan. Inilah yang saya sebut nationalism branding. Beberapa hari menjelang hari kemerdekaan ini saya mencoba melakukan riset kecil untuk mengumpulkan bentuk dan “modus operandi” bagaimana kampanye nationalism branding ini dilakukan oleh brand-brand hebat kita. Saya menemukan belasan bentuk dan format, namun mengingat te
    Read More
  • 13

    Aug

    UMKM dan Desa

    Hari Rabu malam (5/8) lalu saya ketemu dan berhalal bihalal dengan para “UMKM hero”, para tokoh pemimpin komunitas yang peduli memajukan UMKM (usaha mikro kecil menengah) Indonesia. Mereka antara lain adalah pak Budi Isman (pendiri Komunitas Smartpreneur), pak Subiakto (pakar branding), mas Badroni Yuzirman (pendiri Komunitas Tangan Di Atas), mas Jaya Setiabudi (pendiri Young Entrepreneur Academy), mas Emille Jayamata (Komunitas Organik Indonesia), dan lain-lain. Kami diundang oleh temen-temen Telkom DBS, divisi yang khusus membidangi sektor bisnis UMKM. Di situ kami ngobrol ngalor-ngidul mengenai bagaimana memajukan UMKM Indonesia. Yang menarik dari forum itu, rupanya isi otak kami sama. Kami memang punya movement masing-masing yang berbeda untuk memajukan UMKM, namun rupanya
    Read More
  • 5

    Aug

    Liburan Kelas Menengah

    Beberapa waktu lalu saya meluncurkan buku saya terbaru berjudul 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia, 2015). Buku ini istimewa karena merupakan buku yang pertama di Indonesia membahas secara komprehensif profil konsumen kelas menengah Indonesia berdasarkan survei di 9 kota utama Indonesia. Salah satu fenomena kelas menengah yang menarik saya bahas dalam buku tersebut adalah adanya pergeseran perilaku dalam berlibur (traveling).   Dalam buku tersebut saya uraikan bahwa fenomena berlibur kalangan kelas menengah kita mengalami pergeseran yang sangat mendasar. Seiring naiknya daya beli, kini mereka merasa bahwa liburan telah menjadi suatu kebutuhan baru yang wajib dilaksanakan setiap tahun atau bahkan sekali dalam beberapa bulan. Hari demi hari waktu mereka banyak dihabiskan untuk beragam ke
    Read More
  • 19

    Jul

    Lebaran Narsis

    Saya sebut Lebaran narsis karena sejak 3-4 tahun terakhir Lebaran kita beda dengan Lebaran yang dulu-dulu. Kita-kita para mudikers kini kian terhubung satu sama lain oleh WA, Facebook, Twitter, Instagram, atau Path. Karena terhubung, maka inilah kesempatan emas bagi mudikers untuk sharing setiap detil aktivitas lebaran kita: mulai dari saat perjalanan pulang mudik, momen-momen berharga saat sungkeman dengan orang tua dan handai taulan, juga saat liburan lebaran bersama orang-orang tercinta. Narsis semasa Lebaran wow nikmatnya. Hanya dengan begitu para mudikers eksis. Dalam buku saya yang baru 8 Wajah Kelas Menengah (2015), di situ saya tulis bahwa kelas menengah kita kini kian socially-connected, artinya mereka selalu ingin terhubung dengan kerabat, teman, kolega, dan siapapun yang mereka
    Read More

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post