<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>yuswohady</title>
	<atom:link href="http://yuswohady.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yuswohady.blogdetik.com</link>
	<description>Marketing in a Whole NEW World</description>
	<pubDate>Mon, 14 May 2012 01:21:09 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Duit Menganggur&#8230; No Way!</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/14/duit-menganggur-no-way/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/14/duit-menganggur-no-way/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 01:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[banking behavior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Saya punya teman seorang brand manager di sebuah perusahaan consumer  good terkemuka di Jakarta. Teman asal Klaten ini termasuk workaholic  karena kesehariannya hanya kerja dan kerja. Ya karena belum ada anak dan  istri, ditambah lagi ia tinggal sendirian alias kos di Jakarta. Karena  berprestasi dan kerja sepenuh hati, belum sampai lima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya teman seorang brand manager di sebuah perusahaan consumer  good terkemuka di Jakarta. Teman asal Klaten ini termasuk workaholic  karena kesehariannya hanya kerja dan kerja. Ya karena belum ada anak dan  istri, ditambah lagi ia tinggal sendirian alias kos di Jakarta. Karena  berprestasi dan kerja sepenuh hati, belum sampai lima tahun posisi empuk  brand manager ia raih, tentu dengan gaji yang lumayan.</p>
<p>Karena terbiasa prihatin sejak kecil, pengeluarannya perbulan minim.  Ia nggak hobi belanja atau makan-makan di mal. Ia nggak hobi mengoleksi  gadget seperti banyak dilakukan temen-teman profesional muda. Ia juga  tidak hobi traveling menghabiskan uang. Akibatnya gampang ditebak,  gajinya tiap bulan praktis utuh.</p>
<p>Lalu dikemanakan uangnya yang menganggur? Ini yang tidak saya duga.  Rupanya si teman piawai mengelola aset yang dimilikinya. “Ada yang di  deposito, ada yang diinvestasikan di properti, lalu satu lagi  diivestasikan di reksadana,” ujar si teman ketika saya tanya ke mana  lari gajinya. Saya tak menduga si teman begitu rapi mengelola uangnya,  karena setahu saya ia lugu dalam hal mengurus duit. Ya karena  seumur-umur tidak pernah punya uang banyak.</p>
<p><strong>Kelas Menengah Baru</strong><br />
Teman saya di atas adalah potret kelas menengah baru Indonesia. Awalnya  dari kampung, berasal dari keluarga sederhana, pintar di sekolah  sehingga mampu belajar sampai ke universitas. Berbekal sekolah dan  pengetahuan mereka berurbanisasi ke ibukota untuk mengadu nasib.  Pengetahuan memang ampuh menjadi alat pendongkrak status ekonomi. Dengan  pengetahuan yang didapat di universitas mereka bisa mendapatkan  pekerjaan bagus dan survive hidup di Jakarta.</p>
<p>Dengan “kultur kampung” yang prihatin dan kerja keras mereka sukses  berkompetisi di antara kolega-koleganya di kantor sehingga posisi demi  posisi empuk diraihnya. Sukses karir tentu saja diikuti dengan sukses  fulus. Maka dua-tiga tahun bekerja, biasanya mereka mulai punya duit  berlebih. Apalagi di awal-awal bekerja umumnya mereka belum berkeluarga  sehingga banyak porsi duitnya menganggur (<strong>discretionary income</strong>).</p>
<p>Kelas menengah baru ini umumnya sangat <strong>knowledgeable </strong>dan <strong>technology savvy</strong>,  karena itu mereka banyak membaca buku dan googling untuk mencari  informasi mengenai bagaimana mengelola aset miliknya. “Gara-gara baca  buku <strong>Cashflow</strong> <strong>Quadrant</strong>-nya <strong>Robert Kiyosaki </strong>saya  jadi tahu bagaimana mengelola duit,” begitu komentar teman saya  mengenai bagaimana awalnya ia sadar untuk mengelola keuangannya. Melalui  internet mereka juga aktif berburu informasi mengenai  instrumen-instrumen investasi keuangan seperti saham, reksadana,  obligasi, unit link, dan lain-lain.</p>
<p><strong>Asset Management </strong><br />
Saya memperkirakan kelompok kelas menengah yang memiliki potensi dana  berlebih untuk diinvestasikan ke dalam berbagai instrumen keuangan ini  ada di segmen kelas menengah atas (<strong>upper middle-class</strong>)  yang memiliki rentang pengeluaran perhari $10-20. Menurut data SUSENAS,  jumlah kelompok ini pada tahun 2009 saja sudah mencapai 2,2 juta. Jumlah  mereka terus meningkat sehingga Indonesia merupakan pasar yang sangat  prospektif bagi para manager investasi.</p>
<p>Seperti tercermin dari FGD (focus group discussion) yang saya lakukan akhir tahun lalu, konsumen kelas menengah (<a href="http://www.yuswohady.com/2010/12/04/consumer-3000/" target="_blank"><strong>Consumer</strong> <strong>3000</strong></a>)  adalah kelompok masyarakat yang sudah sadar mengelola aset-aset mereka  secara sistematis. Prosesnya berjalan secara natural. Karena mereka  mulai memiliki dana menganggur yang cukup besar, akan sayang jika dana  berlebih tersebut tidak berkembang. Kalau dana mereka masih kecil, maka  menyimpan dana tersebut dalam bentuk tabungan biasa tidak menjadi  masalah. Namun ketika dananya sudah cukup besar maka mereka mulai  berpikir bagaimana dana tersebut bisa menghasilkan return yang lebih  besar.</p>
<p>Karena itu mereka mulai mencari instrumen-instrumen investasi yang  sesuai dengan kebutuhan keuangan mereka. Pilihannya beragam, mulai dari  memilih saham atau reksadana yang berisiko. Ada memilih investasi  melalui pembelian properti. Atau pilihan yang aman seperti deposito atau  obligasi pemerintah. Riset yang dilakukan oleh <strong>Knight Frank </strong>dan <strong>Citi Private</strong> <strong>Bank</strong> misalnya, menemukan sasaran investasi mereka terutama adalah <strong>obligasi pemerintah</strong>, <strong>dana tunai</strong>, dan <strong>emas </strong>yang  relatif lebih aman. Intinya mereka mulai berpikir bahwa duit menganggur  tersebut harusnya bekerja untuk mereka; bukannya mereka yang bekerja  untuk mencari duit.</p>
<p><strong>New Banking Behavior</strong><br />
Karena itu revolusi kelas menengah di Indonesia serta-merta akan diikuti  dengan pergeseran banking behavior dari konsumen baru ini. Perbankan  Indonesia akan memasuki babakan baru dimana konsumen menjadi semakin  maju, tak hanya menggunakan layanan perbankan dasar seperti tabungan,  kartu kredit, atau kartu debit. Mereka memanfaatkan layanan-layanan  perbankan yang lebih advance seperti investasi melalui saham, reksadana,  bancsurance, atau obligasi. Layanan-layanan tersebut tak hanya  dinikmati segelintir segmen konsumen kelas atas, tapi mulai diadopsi  oleh kelas menengah secara massal.</p>
<p>Saya sering menggunakan istilah “<a href="http://www.yuswohady.com/2011/06/19/mass-luxury/" target="_blank"><strong>mass luxury</strong></a>”  untuk menyebut produk/layanan yang dulunya hanya dimonopoli oleh  segelintir kalangan atas, tapi kemudian “turun kelas” mulai diadopsi  secara massal oleh konsumen kelas menengah. Saya sering menyebut mobil,  iPad, TV flat, tiket pesawat, atau liburan ke luar negeri sebagai contoh  aktual dari mass luxury. Barang-barang tersebut awalnya dimonopoli  milik orang kaya, tapi kemudian menjadi merakyat milik orang kebanyakan.</p>
<p>Nah, di industri perbankan saya melihat tren fenomena mass luxury ini  pun terjadi ketika instrumen-instrumen investasi keuangan seperti  reksadana, bancsurance, atau obligasi pemerintah mulai diadopsi secara  massal oleh konsumen kelas menengah. Ketika jumlah kelas menengah ini  kian siknifikan, maka tak terelakkan lagi layanan-layanan keuangan  tersebut akan menemukan <strong>critical mass</strong>-nya.</p>
<p>Satu lagi gempa tektonik bakal melanda industri perbankan kita  seiring munculnya konsumen kelas menengah. Bagi para bankir, massage-nya  jelas, bahwa Anda para bankir harus mulai pasang kuda-kuda untuk lari  cepat menyongsong tsunami konsumen yang bakal ditimbulkannya. Ingat,  kecepatan seringkali menentukan apakah Anda menjadi winner atau loser.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/14/duit-menganggur-no-way/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Social Experience</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/07/social-experience/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/07/social-experience/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 01:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<category><![CDATA[Instagram]]></category>

		<category><![CDATA[Social Experience]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Yang membuat Instagram disukai banyak orang adalah  karena melalui aplikasi cool ini kita bisa mempermak hasil jepretan  dengan beragam efek (yes, paling favorit adalah tools: ‘Tilt-Shift’)  sehingga kita sudah seperti layaknya forografer profesional. Tapi yang  membikin apps ini begitu heboh dan digandrungi oleh para iGers (penggiat komunitas Instagram) adalah karena kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang membuat <strong>Instagram </strong>disukai banyak orang adalah  karena melalui aplikasi cool ini kita bisa mempermak hasil jepretan  dengan beragam efek (yes, paling favorit adalah tools: ‘<strong>Tilt-Shift</strong>’)  sehingga kita sudah seperti layaknya forografer profesional. Tapi yang  membikin apps ini begitu heboh dan digandrungi oleh para <strong>iGers</strong> (penggiat komunitas Instagram) adalah karena kita bisa berbagi karya-karya foto kita itu dengan sesama teman di ranah maya.</p>
<p>Kenikmatan terbesar ber-Instagram adalah ketika foto-foto itu dilihat  oleh teman-teman kita; banyak di-‘follow’, di-‘likes’, dikomentari,  atau masuk dalam kategori ‘Popular’ karena disukai banyak teman kita.  Kita mendapatkan pengalaman luar biasa di Instagram karena kita merasa  karya kita dihargai teman-teman. Melalui foto-foto yang kita taruh di  Instagram dan dilihat ribuan teman, kita merasakan aktualisasi diri yang  tak ternilai harganya. Melalui foto-foto kita di Instagram kita bisa  berbagi, berdiskusi, dan bercurhat ria. Dan jangan lupa, melalui  foto-foto kita di Instagram kita bisa bernarsis ria.</p>
<p><strong>Kenikmatan Sosial</strong><br />
Berbagai kenikmatan berbagi foto (photo sharing) di Instagram di atas merupakan sebuah pengalaman luar biasa yang saya sebut “<strong>social experience</strong>”.  Kenapa disebut social? Ya, karena kenikmatannya baru bisa kita peroleh  jika kita tidak sendirian, alias berjamaah. Makin banyak orang yang ikut  berpartisipasi, makin heboh pula kenikmatan yang kita dapatkan. Sebut  saja kenikmatan yang muncul ndari adanya social experience ini sebagai, “<strong>kenikmatan sosial</strong>”.</p>
<p>Apa itu kenikmatan sosial? Kenikmatan yang kita peroleh saat kita  disorot ribuan atau jutaan pasang mata teman-teman kita. Kenikmatan itu  kita dapatkan jika kita diperhatikan orang lain. Atau kenikmatan yang  kita peroleh jika kita bisa saling berbagi dan berempati dengan orang  lain. Atau juga kenikmatan yang kita peroleh jika kita berelasi dan  berinteraksi dengan orang-orang di luar kita. Sebuah relasi yang  menghasilkan kesenangan, kebersamaan, kebanggaan, rasa percaya diri,  kebermaknaan diri, kepedulian, perasaan GR, aktualisasi diri, eksistensi  diri, atau cinta (termasuk cinta diri sendiri alias narsis).</p>
<p>Cara paling gampang menjelaskan social experience adalah saat kita nonton bola. Nonton <strong>Chelsea </strong>lawan <strong>Liverpool </strong>rasanya  akan jauh berbeda antara nonton sendiri di depan layar kaca di rumah  dengan menonton on the spot di stadion Wembley. Menonton bersama-sama  dengan puluhan ribu penonton lain di stadion menghasilkan social  experience yang luar biasa: berteriak bersama-sama; bernyanyi  bersama-sama; memuja klub pujaan bersama-sama; menghujat lawan  bersama-sama; berpesta bersama-sama saat klub pujaan menang; juga  bersedih bersama-sama saat klub kalah.</p>
<p><strong>Great Social Experiencer</strong><br />
Kemunculan <strong>social technology</strong> (blog, social networking,  microblog, location-based service, photo sharing, dll.) menjadikan  social experience menjadi ter-leverage luar biasa. Kenapa? Karena social  technology memungkinkan cakupan audiens yang terlibat di dalamnya  menjadi demikian luas menjangkau seluruh pelosok bumi. Tak hanya itu,  pangalaman yang tercipta juga semakin kaya, mengesankan, dan  menakjubkan. Karena itu saya mengatakan, kemunculan social technology   menciptakan peluang luar biasa bagi marketer untuk mendongkrak customer  experience dengan memberikan social experience yang luar biasa.</p>
<p>Kenapa merek-merek hebat seperti <strong>Facebook</strong>, <strong>Twitter</strong>, <strong>YouTube</strong>, atau <strong>Blackberry </strong>menuai  sukses luar biasa? Jawabannya hanya satu: karena mereka mampu  memberikan great social experience kepada konsumennya. Facebook  menyediakan tempat yang luar biasa bagi kita semua untuk mengumbar  kebutuhan sosial kita. Facebook memberikan social experience dengan  menghubungkan kita dengan teman-teman dari seluruh dunia untuk bercurhat  ria, berdiskusi, mendengar uneg-uneg teman, memamerkan puisi indah  ciptaan kita, memamerkan foto-foto tercakep-terganteng kita.</p>
<p>Blackberry melalui memberikan kita wadah untuk membentuk komunitas  teman-teman SMA atau teman-teman penyuka sepeda. Melalui BBM Group  teman-teman SMA yang sudah terpisah 20-30 tahun dan tersebar di berbagai  daerah Nusantara (bahkan di luar negeri) kini bisa disatukan dan bisa  diajak bernostalgia 24 jam sehari 7 hari seminggu. Pengalaman  bernostalgia bersama teman SMA adalah great social experience yang tak  ternilai harganya. Saya kira salah satu kelemahan utama <strong>Nokia</strong> dibanding Blackberry adalah karena Nokia tak mampu memberikan great social experience sehebat Blackberry.</p>
<p><strong>Break rule of the Game</strong><br />
Barangkali banyak yang mengira social experience hanya bisa diberikan  oleh perusahaan macam Facebook atau Twitter, dan tidak bisa dilakukan  oleh perusahaan konvensional. Salah besar! Ambil contoh <a href="http://www.yuswohady.com/2011/12/10/2pm-7-eleven/" target="_blank"><strong>7-Eleven</strong></a>.  7-Eleven adalah inovator di industri ritel nasional dengan menawarkan  value proposition yang tak jamak diberikan pemain-pemain lain. Yang  ditawarkan 7-Eleven sesungguhnya adalah social experience yaitu  pengalaman nongkrong bersama rekan kerja, ngobrol bersama teman satu  geng di kampus, curhat denga teman intim, atau kesempatan narsis karena  dilihat orang lain.</p>
<p>Social expereince memberi 7-Eleven faktor pembeda (<strong>differentiator</strong>) di antara pesaing-pesaing yang bertahun-tahun sebelumnya telah mapan seperti <strong>Indomaret </strong>dan <strong>Alfamart</strong>. Tak hanya itu, dengan memberikan social experience, 7-Eleven mendobrak <strong>rule of the game</strong> di industri ritel di Tanah Air yang telah mapan selama bertahun-tahun sebelumnya. Kalau Indomaret, Alfamart, atau <strong>Circle-K</strong> lebih menawarkan convenience yang bersifat fungsional, maka 7-Eleven  memiliki keunikan karena menawarkan social experience yang lebih  bersifat emosional.</p>
<p>Tak peduli apakah bisnis Anda secanggih Google/Facebook atau  sekonvensional warung Padang, Anda harus pasang kuda-kuda untuk  melahirkan great social experience. Jadilah Instagram, Facebook, atau  7-Eleven yang merombak rule of the game melalui social experience yang  menakjubkan. Jangan sampai justru sebaliknya, Anda dilibas oleh pesaing  hebat yang duluan memberikan great social experience. Kalau yang  terakhir ini yang terjadi saya cuma bisa bilang: “Kacihan deh  luuuu!?!?!?”.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/05/07/social-experience/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suju, ELF, Follower</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/30/suju-elf-follower/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/30/suju-elf-follower/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 00:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[follower]]></category>

		<category><![CDATA[K-pop]]></category>

		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Membicarakan Super Junior (Suju) selalu saja heboh, apalagi beberapa hari ini saat kelompok boy band asal Korea ini sedang konser di Jakarta. Bicara mengenai Siwon cs. yang super-imut dan membikin hati setiap ABG klepek-klepek pasti heboh. Bicara lagu-lagunya (yup, “Mr. Simple” dan “Sorry Sorry”)  yang nge-dance khas boy band pasti heboh. Bicara mengenai atraksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membicarakan<strong> Super Junior</strong> (<strong>Suju</strong>) selalu saja heboh, apalagi beberapa hari ini saat kelompok boy band asal Korea ini sedang konser di Jakarta. Bicara mengenai <strong>Siwon</strong> cs. yang super-imut dan membikin hati setiap ABG klepek-klepek pasti heboh. Bicara lagu-lagunya (yup, “<strong>Mr. Simple</strong>” dan “<strong>Sorry Sorry</strong>”)  yang nge-dance khas boy band pasti heboh. Bicara mengenai atraksi  konser mereka yang spektakuler penuh kejutan pasti juga heboh. Bicara  Suju memang heboh, tapi bagi saya membicarakan para fans Suju jauh lebih  heboh.</p>
<p><strong>Heboh</strong><br />
Hari Kamis malam kemarin (26/4) saya menonton TV di rumah. Banyak stasiun TV menyiarkan <strong>ELF</strong> (ever lasting friends, sebutan untuk para fans Suju) menangis berjamaah di  bandara. Pasalnya mereka tidak bisa bertemu dengan idola mereka yang  mendarat di bandara Soekarno-Hatta untuk menggelar konser esok malamnya.  Meraka menangis karena personil Suju masuk bandara lewat pintu khusus  yang lepas dari kejaran mereka. “Suju jahat, tega banget mereka enggak  mau ketemu kita. Kita tuh sudah capek dan nyaris pingsan cuma buat  ketemu sama mereka,” begitu komentar salah satu fans yang saya ambil  dari salah satu media online.</p>
<p>Mereka kecewa luar biasa karena sudah susah payah datang sejak pagi  di bandara Soekarno-Hatta, bahkan tak sedikit yang menginap sejak sehari  sebelumnya. Konon, banyak fans ini menangis karena mereka tidak  kebagian tiket sehingga bertemu di bandara adalah kesempatan  satu-satunya untuk bertemu langsung dengan sang idola. “Saya nggak dapat  tiket untuk nonton. Jadi sengaja ke bandara karena ini satu-satunya  kesempatan untuk ketemu mereka,” curhat salah seorang fans.</p>
<p>Laskar ELF yang sebagian besar ABG datang tak hanya dari Jakarta.  Mereka datang dari berbagai kota dengan fanatisme yang luar biasa. Saya  saksikan dari layar kaca ketika mereka diwawancarai stasiun TV, luar  biasa hebohnya. Dari raut muka para ABG ini terlihat kebahagiaan yang  luar biasa. Dari merem-melek matanya tercermin ketakjuban dan keharuan  yang luar biasa. Dari bahasa tubuhnya tersirat ekstase yang luar biasa.  Pokoknya kehebohan serba luar biasa. Terus terang sulit saya  menggambarkannya.</p>
<p>Untuk bisa menonton Suju, tiket yang mereka beli tidaklah murah.  Harga resminya yang termurah Rp 500 ribu, yang termahal Rp 2 juta.  Sampai di para calo harga tersebut bisa dua kali lipatnya. Untuk dapat  membelinya, langkah jibaku apa yang dilakukan para ELF? Kalau orang tua  mereka kaya tentu harga tiket mahal nggak masalah. Kalau mereka nggak  kaya, maka berbagai trik cespleng dilakukan. “Saya beli tiket yang Rp  1,4 juta. Untuk membelinya saya nabung uang jajan selama dua bulan,”  ujar seorang ELF dari Bandung.</p>
<p><strong>Follower</strong><br />
Para ELF adalah sosok kelas menengah muda Indonesia yang menjadi sasaran gaya hidup pop global: <strong>Hollywood</strong>, <strong>McDonald’s</strong>, <strong>Lady Gaga</strong>, juga tentu saja <strong>K-pop</strong>.  Mereka mungkin sudah imun bahkan malu mengonsumsi produk kesenian lokal  macam wayang kulit, ketoprak, ludruk atau jaipongan. Ketika ditanya  kenapa? Pasti dengan sigap mereka menukas: “hari geneee… nonton  ketoprak!?!?! Mereka tentu akan malu diomongin di antara teman-teman  mereka sebagai orang yang jadul dan katrok. Jujur saja, sesungguhnya ini  menyedihkan. Tapi apa mau dikata, jaman sudah berubah; arus globalisasi  menggerus tanpa ampun.</p>
<p>ELF adalah potret dari segmen konsumen kelas menengah yang saya sebut sebagai “<a href="http://consumer3000.net/the-follower/" target="_blank"><strong>follower</strong></a>” (lihat bagan:<strong> <a href="http://consumer3000.net/" target="_blank">The Consumer 3000 Segmentation</a></strong>).  Saat ini saya sedang melakukan riset untuk menghitungnya, namun dugaan  sementara saya segmen konsumen jenis ini jumlahnya sangat besar di  Indonesia terutama dari kalangan anak muda (SMP. SMA, dan anak kuliah).  Banyak yang menyebut mereka dengan label yang cool: <strong>ABG labil</strong> (<strong>ababil</strong>) atau <strong>ABG galau</strong>.</p>
<p><a href="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2012/04/The-C3000-Segmentation-Model-Final.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1205" src="http://www.yuswohady.com/wp-content/uploads/2012/04/The-C3000-Segmentation-Model-Final-300x215.jpg" alt="" width="369" height="263" /></a></p>
<p>Bagi konsumen jenis ini teman adalah segalanya: “<strong>friends are everything. Nothing can replace them</strong>.”  Teman dan lingkungan di sekitarnya (sekolah, tetangga, atau komunitas)  bagi mereka memiliki pengaruh sangat besar terhadap pola pikir,  nilai-nilai, dan perilaku mereka. Contohnya ELF di atas. Dianggap oleh  temannya sebagai “jadul” karena tidak mengikuti tren K-pop bisa jadi  merupakan aib luar biasa bagi mereka. Itu sebabnya tren-tren musik,  film, fesyen, gadget, model rambut yang diadopsi oleh teman atau  lingkungannya itu harus diikuti.</p>
<p>Mengikuti tren adalah salah satu cara mereka untuk tetap terkoneksi secara sosial (<strong>socially-connected</strong>)  dan diterima oleh lingkungan teman dan komunitas mereka. Ingat,  diterima oleh lingkungan teman dan komunitas merupakan salah satu hal  terpenting dan bermakna bagi hidup mereka. Bicara soal mengikuti tren,  maka segmen follower tak akan bisa lepas dari apa yang saya sebut “gaya  hidup permukaan” (<strong>peripheral lifestyle</strong>) seperti  tampilan fisik yang keren, kepemilikan gadget terbaru, atau citra diri  kebarat-baratan. Melalui peripheral lifestyle inilah mereka menemukan  eksistensi.</p>
<p><strong>Are You Ready? </strong><br />
Seperti saya bilang di depan, saya menduga segmen konsumen ini di  Indonesia sangatlah besar. Secara demografis, di usia yang sedang  hot-hotnya, mereka adalah emerging customers yang sangat strategis bagi  Anda para marketer. Keberhasilan Anda menaklukkan konsumen ini tak hanya  berpengaruh pada brand Anda saat ini tapi juga di sepuluh atau dua  puluh tahun ke depan.</p>
<p>Ingat, mereka adalah jenis ABG yang sama sekali baru; berbeda dengan  ABG jaman 10 atau 15 tahun lalu (apalagi jaman saya ABG, hehehe). Ya,  karena kemajuan teknologi (<strong>Facebook</strong> dan <strong>apps</strong>), keterbukaan informasi, (<strong>Googling</strong> dan <strong>Wikipedia</strong>) dan globalisasi (<strong>Hollywoodization</strong> dan <strong>Californization</strong>)  telah “bersekongkol” mencuci otak mereka sehingga menjadi mutan;  menjadi ABG gaya baru yang tidak kita kenali sebelumnya. Bagi Anda para  marketer, kuncinya tetap satu. Pelajari pola pikir dan gaya hidup  mereka, kemudian respon dengan value proposition yang relevan. Kta salah  satu teman saya di Twitter: “<strong>#stayrelevant</strong>”</p>
<p>“Are you ready for the Followers?” Kalau Anda marketer sejati, maka jawabannya hanya satu: “<strong>I’m 1000% ready</strong>!!!”</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/30/suju-elf-follower/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Menengah Rapuh</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/23/kelas-menengah-rapuh/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/23/kelas-menengah-rapuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 01:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[middle class consumer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan temen-temen komunitas Tangan Di Atas (TDA) mas Badroni Yuzirman, pak Lywa Fauzie, dan mbak Diah Yusuf di Citos, Jakarta Selatan. Ngobrol ngalor-ngidul akhirnya kami sampai ke pembicaraan krisis subprime mortgage di AS tahun 2008. Pemicunya, kebetulan kami sama-sama nonton film dokumenter Capitalism: A Love Story arahan sutradara nyentrik Michael [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan temen-temen komunitas <strong>Tangan Di Atas </strong>(TDA) mas <strong>Badroni Yuzirman</strong>, pak <strong>Lywa Fauzie</strong>, dan mbak <strong>Diah Yusuf </strong>di Citos, Jakarta Selatan. Ngobrol ngalor-ngidul akhirnya kami sampai ke pembicaraan krisis <strong>subprime mortgage</strong> di AS tahun 2008. Pemicunya, kebetulan kami sama-sama nonton film dokumenter <strong>Capitalism: A Love Story</strong> arahan sutradara nyentrik <strong>Michael Moore</strong>.  Moore dikenal sebagai “sutradara pemberontak” yang tanpa ampun sering  mengritik pemerintah AS melalui film-film kontroversialnya.</p>
<p>Kalau Anda menonton film ini, isinya sarat dengan otokritik terhadap  kapitalisme AS yang tak beretika dan tak bermoral. Praktek kapitalisme  menghisap ala Wal Street (kata <strong>Gordon Gekko</strong>: “<strong>greed is good</strong>”)  tersebut kemudian berakhir tragis dengan rontoknya sektor keuangan AS  karena kasus subprime mortgage. Seperti kita tahu, krisis parah ini  sekaligus menandai goyahnya kelas menengah AS. Dalam film tersebut  digambarkan bagaimana begitu banyak warga kelas menengah AS bangkrut dan  kehilangan rumahnya karena disita bank.</p>
<p>Entah kenapa, obrolan singkat itu kemudian membuat saya cemas. Ya,  karena apa yang terjadi di AS tersebut bisa saja dialami oleh kelas  menengah di negeri ini. Kombinasi dari “<strong>budaya konsumtif</strong>” dan “<strong>budaya mengutang</strong>”  yang mulai menghinggapi konsumen kelas menengah kita, kalau tidak  hati-hati akan membawa mereka terjerembab pada krisis seperti yang  terjadi di AS.</p>
<p><strong>Budaya Konsumtif, Budaya Mengutang</strong><br />
Salah satu ciri masyarakat kelas menengah adalah mereka memiliki <strong>disposable income</strong> (dana sisa di luar untuk kebutuhan sandang, pangan, papan dasar) yang cukup besar. Rule of thumb-nya, <strong>1/3</strong> total pendapatan kelas menengah adalah disposable income. Dengan  disposable income yang memadai mereka memiliki keleluasaan untuk  memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan dasar (basic needs) seperti membeli  motor, TV, AC, lemari es, weekend makan-makan sekeluarga di restoran,  membawa anak-anak main di <strong>Timezone</strong>, hingga membeli mobil.</p>
<p>Disposable income ini seperti pisau bermata dua, di satu sisi  menjadikan kelas menengah memiliki keleluasaan memenuhi  kebutuhan-kebutuhannya, termasuk kebutuhan di luar basic needs. Tapi di  sisi lain adanya disposable income juga mendorong mereka mulai memiliki  gaya hidup konsumtif. Mereka mulai peka terhadap godaan-godaan iklan di  TV. Mereka mulai gampang terpengaruh oleh rayuan diskon dan sale di mal.  Ya wajar saja, karena mereka mulai punya duit untuk membelinya.</p>
<p>Celakanya, budaya konsumtif ini kemudian “difasilitasi” oleh beragam  fasilitas kredit konsumsi dari bank atau lembaga pembiayaan. Beli rumah  menggunakan KPR dari bank. Beli mobil dan motor menggunakan fasilitas  kredit dari lembaga pembiayaan cukup bayar DP rp 500 ribu. Beli TV flat  terbaru atau futnitur di <strong>Index </strong>dicicil 12 bulan pakai  kartu kredit. Kondisi inilah yang pelan tapi pasti kemudian membentuk  budaya mengutang di kalangan konsumen kelas menengah. Istilah keren-nya,  budaya “<strong>buy now pay later</strong>”.</p>
<p><strong>Madu dan Racun</strong><br />
Saya menggambarkan beragam bentuk fasilitas kredit yang didapatkan  konsumen kelas menengah itu ibarat madu sekaligus racun. Saya sebut madu  karena fasilitas tersebut memungkinkan mereka “<strong>potong kompas</strong>”  dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Maksud saya, berkat fasilitas  kredit, kebutuhan-kebutuhan yang sesungguhnya tidak mampu mereka penuhi  karena berada di luar batas kemampuan beli mereka, kini bisa diwujudkan.  Persis seperti dikatakan tagline Adira Finance salah satu perusahaan  pembiayaan konsumsi terkemuka: “<strong>Bring Tomorrow Today</strong>”.</p>
<p>Apa akibatnya jika mereka “<strong>terbebaskan</strong>” dalam  menuruti kebutuhan-kebutuhannya, termasuk kebutuhan yang sesungguhnya  tak terjangkau kocek mereka? Bahayanya luar biasa. Budaya “buy now pay  later” cenderung membawa konsumen untuk “<strong>hantam kromo</strong>”  dalam membeli. Ungkapan yang pas, kira-kira berbunyi demikian: “Pokoknya  beli sekarang, urusan bayar dipikir belakangan.” Inilah kondisi yang  sering kita alami (termasuk saya hehe…) ketika di mal kita mendapati  gadget terbaru, TV flat terbaru, lemari es terbaru, furnitur terbaru  dengan brandrol harga diskon 70%. Ketika kartu kredit terus  melambai-lambai di dompet, maka tak terhindarkan lagi aksi hantam kromo  pun tak terelakkan.</p>
<p>Coba lihat kasus berikut ini. Ada seorang karyawan perusahaan swasta  terkemuka dengan gaji lumayan. Dengan gaji tetap tiap bulan ia mengambil  KPR selama 10 tahun dan kredit mobil selama 3 tahun. Di samping itu ia  juga menyicil motor, sofa ruang tamu, dan TV flat masing-masing 1 tahun  menggunakan kartu kredit. Dengan beragam kewajiban cicilan tersebut  sesungguhnya gaji si karyawan ini sudah “pas-pasan”. Sisa uang yang ia  miliki tiap bulan menipis sehingga mau tak mau ia harus mengerem pakem  nafsu belanjanya.</p>
<p>Tapi suatu hari ia mengunjungi pameran komputer akbar di JHCC yang  menawarkan diskon 70%. “Wah rugi nih kalau tidak membeli,” pikirnya.  Maka otak berputar keras dan ide cespleng pun keluar: hutang via kartu  kredit. Dengan kredit baru itu praktis anggaran si karyawan sudah  defisit alias besar pasak daripada tiang. Bayangkan kalau rayuan iklan,  diskon, dan hadiah terus membombardir dan si karyawan tak berdaya untuk  mengerem konsumsinya, pada suatu titik tertentu ia akan default bahkan  bangkrut seperti yang terjadi di AS. Itu sebabnya fasilitas kredit saya  sebut racun, karena kalau tak hati-hati menggunakannya bisa menyebabkan  anggaran keluarga gonjang-ganjing.</p>
<p><strong>Rapuh</strong><br />
Kenapa konsumen kelas menengah saya sebut rapuh? Karena konsumen kelas  menengah rentan terjebak dalam lingkaran budaya konsumtif-mengutang  seperti saya gambarkan di atas. Kalau kita miskin dan tak memiliki  banyak disposable income, maka kita akan terbiasa hidup prihatin dengan  mengerem konsumsi. Kita juga cenderung imun terhadap rayuan iklan dan  diskon. Hal ini berbeda kalau kita sudah memiliki lumayan duit dan mulai  mampu membeli barang-barang yang diiklankan di TV atau dipajang di mal.</p>
<p>Ketika duit mulai cukup di kocek, maka godaan untuk mengumbar gaya  hidup konsumtif sulit terhindarkan. Ketika gaya hidup konsumtif sudah  begitu mendarah daging, maka membeli dengan cara mengutang menjadi  solusi cespleng. Dan ketika kombinasi budaya konsumtif-mengutang ini  sudah menjadi kanker yang sulit dijinakkan, maka bahaya default dan  kebangkrutan akan mengintai setiap saat.</p>
<p>Saya berdoa semoga kelas menengah kita tetap prihatin dan cerdas  membelanjakan uangnya, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Amin.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/23/kelas-menengah-rapuh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menjadi Kodak</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/16/jangan-menjadi-kodak/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/16/jangan-menjadi-kodak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 04:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Marketing Strategy]]></category>

		<category><![CDATA[business model innovation]]></category>

		<category><![CDATA[creative destruction]]></category>

		<category><![CDATA[kodak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Kodak tutup. Bangkrut! Nokia bingung. Kehilangan pijakan. Starbucks jualan bir: “beyond coffee” kilahnya. Operator telco tambun limbung,  digembosi Google atau Skype. Bank kebat-kebit karena tren “The death of  cash”. Long tail champions seperti kanker menggerogoti irrelevant  incumbents. Outliers seperti Zipcar atau Groupon marak layaknya jamur di  musim hujan.
Bisnis kini menjadi kian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kodak </strong>tutup. Bangkrut! <strong>Nokia </strong>bingung. Kehilangan pijakan. <strong>Starbucks </strong>jualan bir: “beyond coffee” kilahnya. Operator telco tambun limbung,  digembosi <strong>Google </strong>atau <strong>Skype</strong>. Bank kebat-kebit karena tren “The death of  cash”. Long tail champions seperti kanker menggerogoti irrelevant  incumbents. Outliers seperti <strong>Zipcar </strong>atau <strong>Groupon </strong>marak layaknya jamur di  musim hujan.</p>
<p>Bisnis kini menjadi kian sulit. Bisnis menjadi kian suram… bagi  mereka-mereka yang picik dan bebal. Sebaliknya, Bisnis begitu moncer  bagi visionaries. Bisnis begitu gilang-gemilang bagi para whitespace  inventor.</p>
<p>Kini kita memasuki era yang luar biasa, “<strong>the era of billions of  opportunities</strong>”. Landskap bisnis mengalami gempa tektonik yang  memporak-porandakan, persis seperti digambarkan dalam film kiamat: 2012. <strong> Creative destruction </strong>terjadi di hampir seluruh industri. <strong>Killer apps </strong>bergentayangan terus mengintai mangsanya. Model bisnis lama hancur  dibilas dengan bisnis model baru yang lebih cool. Dalam lanskap yang  baru ini inovasi model bisnis bukan lagi kemewahan, tapi sudah menjadi  mainstream.</p>
<p>Berikut ini adalah tiga creative destruction yang bakal  memporak-porandakan bisnis Anda kini dan seterusnya. Creative  destruction itu akan menjadi asset bagi Anda yang memilih menjadi  pemenang, tapi menjadi liabilities bagi Anda yang memilih menjadi  pecundang.</p>
<p><strong>Customers Are Connected</strong><br />
Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, setelah ditemukannya  social technologies konsumen menjadi terhubung satu sama lain membentuk  jejaring (<strong>customer network</strong>). Jejaring konsumen ini berelaborasi menjadi  cluster-cluster konsumen karena adanya satu minat atau tujuan yang sama  (<strong>common interest</strong>) sehingga membentuk komunitas. Dengan medium jejaring  sosial (social network) komunitas ini tumbuh demikian subur di mana  antar anggota komunitas berinteraksi satu sama lain (melakukan <strong> conversation</strong>, <strong>engagement</strong>, <strong>cocreation</strong>).</p>
<p>Kalau sudah begini, maka Internet akan berisi jutaan bahkan miliaran  komunitas konsumen yang saling terkoneksi dan berinteraksi satu sama  lain secara natural tanpa satu pun instiusi yang bisa mengatur dan  mengontrolnya. Mereka akan menjadi sebuah kekuatan massif yang sangat  powerful dalam berhadapan dengan pemilik merek. Kasus “<strong>Dell Hell</strong>”, “<strong>Koin  Untuk Prita</strong>”, hastag <strong>#25Jan</strong> atau <strong>#Suez </strong>dalam revolusi rakyat di Mesir,  adalah sinyal-sinyal awal betapa konsumen menjadi demikian digdaya  karena adanya social technologies.</p>
<p>Karena customer metamorphosis ini, saya confident mengatakan bahwa:  “<strong>the future of marketing is community marketing</strong>”. Ketika kita berbicara  community marketing maka rumus-rumus marketing secara fundamental akan  berubah: dari “vertical” ke “<strong>horizontal</strong>”; dari “one to many” ke “<strong>many to  many</strong>”; dari “selling” ke “<strong>facilitating</strong>”; dari “broadcasting” ke  “<strong>participating</strong>”; dari “exploitative” ke “<strong>cocreative</strong>”; dari “selfish” ke  “<strong>giving</strong>”.</p>
<p><strong>Consumption Becomes Collaborative</strong><br />
Jakarta macet karena setiap orang membeli mobil. Jakarta pekat asap  hitam karena setiap orang memiliki mobil. Kenapa tidak memiliki hanya  satu mobil yang dipakai secara beramai-ramai (sharing) di antara katakan  10 atau 15 warga Jakarta secara bergantian. Kalau ini bisa dilakukan,  maka populasi mobil di Jakarta akan kecil, kepulan asap yang disemburkan  knalpot akan kecil, jalanan Jakarta lebih nggak macet. Dan kalau  kemacetan dan polusi bisa dipangkas, maka manfaat sosial yang dihasilkan  akan luar biasa.</p>
<p>Itulah ide dasar di balik apa yang disebut <strong>collaborative consumption</strong>.  Ketika konsumen terkoneksi satu sama lain dan social technologies telah  tersedia, maka “<strong>konsumsi berjamaah</strong>” yang dijalankan dalam <strong>peer-to-peer  platform</strong> ini dimungkinkan. Model bisnis inilah yang melandasi operasi  perusahaan-perusahaan masa depan seperti <strong>Zipcar</strong>, <strong>Zilok</strong>, atau <strong>Freecycle</strong>.</p>
<p>Dengan collaborative consumption kita tak perlu memiliki produk yang  kita konsumsi: “<strong>What’s mine is ours</strong>”. Itu sebabnya model bisnis ini  sangat menghemat sumber daya. Dan karena hemat sumber daya, ia menjadi  solusi luar biasa bagi bumi yang kian pucat dan kurus. Collaborative  consumption tak hanya berlaku untuk mobil, tapi berlaku produk dan  layanan apapun. Saya meramalkan bisnis-bisnis dengan platform  collaborative consumption akan menjadi deadly business model yang akan  meruntuhkan banyak model bisnis tradisional yang usang dan tak relevan.</p>
<p><strong>Bits Is the Killer App</strong><br />
Transformasi terbesar yang dihadapi umat manusia di abad 21 ini adalah  revolusi dari “<strong>atoms</strong>” ke “<strong>bits</strong>”. Revolusi itu seperti tornado yang  menyapu bersih apapun yang dilewati. Tornado itu membumihanguskan  pecundang, sekaligus menyisakan pemenang. <strong>Google </strong>dan <strong>Facebook </strong>menjadi  raksasa baru dalam waktu superkilat karena kesigapannya melalui revolusi  atoms ke bits. Sebaliknya, <strong>Kodak </strong>terpaksa tutup karena tak berdaya  melewati revolusi atoms ke bits. Kodak tak mulus menjalani transisi dari  fotografi analog ke fotografi digital.</p>
<p>Bits is the killer app. Banyak korban berjatuhan karenanya. Borders  “dibunuh” oleh Amazon. Toko CD “dibunuh” oleh iTunes. Penerbit cetak “dibunuh”  oleh <strong>Lulu.com</strong>. Layanan interlokal “dibunuh” oleh <strong>Skype</strong>. <strong>Ensiklopedia  Britanica</strong> “dibunuh” oleh <strong>Wikipedia</strong>. Koran dan majalah “dibunuh” oleh  blog.</p>
<p>Ketika informasi dipaket dalam bentuk bits, maka informasi kemudian  tersedia secara berlimpah (abundant), begitu mudah didapatkan dan dicari  (findable/searchable), dan yang terpenting ia menjadi grastis (free).  Ketika pengetahuan dipaket dalam bentuk bits, maka ia kemudian menjadi  seperti O2 yang tersedia secara berlimpah dan gratis. “<strong>Once something  becomes bits, it inevitably becomes free</strong>.” Ini memicu terciptanya model  bisnis paling mematikan saat ini yaitu “<strong>free business model</strong>”.</p>
<p>Saya melihat, tiga fenomena di atas merupakan persoalan besar di  depan mata yang harus dibereskan setiap marketer. Tiga pertanyaan  tersebut tak gampang dicari jawabannya karena melibatkan perubahan rule  of the game pemasaran yang begitu fundamental. Untuk melakukannya  marketer harus menciptakan inner sense of urgency. Ia harus berani  keluar dari zona nyaman dan berani membalas creative destruction yang  menimpa industri dengan creative destruction dalam paradigma dan  pendekatan pemasaran yang digunakan.</p>
<p>Persoalan pelik yang selalu mengiringi sebuah perubahan paradigma  adalah begitu perkasanya legacy masa lampau dalam mengungkung pikiran  kita. Legacy inilah yang membuat otak kita beku. Dengan beku otak kita  akan menganggap resep-resep mujarap masa lalu sebagai yang terbaik dan  terbenar; sementara paradigma dan pendekatan baru adalah teroris yang  sedari dini harus ditumpas. Di tengah kebekuan, otak kita memerlukan  rebooting untuk menjadi kanvas putih-bersih.</p>
<p>Hanya dengan terus belajar dan paranoid terhadap setiap perubahan  kita akan menjadi brand gardener yang hebat. Kuncinya sederhana:  “<strong>Jangan menjadi Kodak!!!</strong>”</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/16/jangan-menjadi-kodak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: CEO Yang Ngetwit!</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/09/dicari-ceo-yang-ngetwit/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/09/dicari-ceo-yang-ngetwit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 05:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Twitter Marketing Is Love Marketing]]></category>

		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<category><![CDATA[CEO]]></category>

		<category><![CDATA[Twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Blog:&#160;http://www.yuswohady.com  &#124;  Twitter: @yuswohady
Beberapa hari lalu saya berkesempatan ngobrol dengan CEO (chief executive officer) salah satu perusahaan keuangan nasional  terkemuka. Entah kenapa saya iseng tanya: “Bapak punya akun Twitter?”  Jawab si CEO straight forward: “tidak!” Mendengar jawaban yang konfiden  itu saya langsung menimpali: “Kenapa tidak?” Sejurus kemudian si CEO  menjawab: “Wah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog:&nbsp;<a href="http://www.yuswohady.com " title="http://www.yuswohady.com " target="_blank">http://www.yuswohady.com </a> |  Twitter: @yuswohady</p>
<p>Beberapa hari lalu saya berkesempatan ngobrol dengan <strong>CEO</strong> (chief executive officer) salah satu perusahaan keuangan nasional  terkemuka. Entah kenapa saya iseng tanya: “Bapak punya akun Twitter?”  Jawab si CEO straight forward: “tidak!” Mendengar jawaban yang konfiden  itu saya langsung menimpali: “Kenapa tidak?” Sejurus kemudian si CEO  menjawab: “Wah, kita-kita ini banyak urusan, nggak ada waktu untuk  twitteran.”</p>
<p>Ungkapan di atas adalah jawaban tipikal yang diberikan oleh kalangan  CEO perusahaan besar ketika ditanya apakah mereka menggunakan media  sosial untuk berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan  stakeholders. Memang saya tak punya datanya, namun dari pengamatan umum  yang saya lakukan, sangat sedikit kalangan CEO perusahaan besar yang  memanfaatkan Twitter untuk menjalin relationship dengan seluruh kalangan  satkeholders perusahaan: pelanggan, karyawan, partner, pers, LSM, dsb.</p>
<p><strong>Too Busy to Tweet</strong><br />
Segudang alasan dikemukakan oleh CEO mengenai kenapa mereka tidak menggunakan Twitter untuk kepentingan strategis perusahaan. <strong>Pertama</strong>,  seperti dikemukakan CEO teman saya di atas, karena mereka terlalu sibuk  untuk ngetwit. Mereka merasakan kerepotan luar biasa kalau harus  merespons tweet, mention, pertanyaan, atau komentar dari para followers.  Sementara, memang jadwal rapat-rapat mereka begitu padat. Resistensi  terhadap Twitter ini makin komplit kalau si CEO juga gaptek, alias gagap  teknologi.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, karena para CEO ini menganggap Twitter adalah “<strong>mainan anak-anak</strong>”  yang hanya cocok untuk ABG dan anak SMA/mahasiswa (dan orang tua yang  sok muda seperti saya, hehehe…). Mereka menganggap Twitter bukanlah  strategic tools untuk mereka. Celakanya, mereka menganggap isi  conversation di Twitter hanyalah sebatas obrolan remeh-temeh yang nggak  perlu dan tak jelas juntrungan-nya. Karena itu mereka menganggap ngetwit  adalah pekerjaan buang-buang waktu yang tidak menghasilkan sales bagi  perusahaan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, mereka merasa informasi pribadi atau  informasi perusahaan bisa terekspos ke luar jika mereka tiap hari  ngetwit. Memang, jika seorang dengan posisi strategis seperti CEO aktif  melakukan conversation di Twitter, maka ada kemungkinan informasi  perusahaan terekspos ke publik. Informasi-informasi itu bisa menjadi  obyek intelijen bagi para pesaingnya, sehingga twit-twit yang  dikeluarkan oleh si CEO harus dikelola secara hati-hati. Tak hanya itu,  ketika seorang CEO aktif di Twitter, maka dengan sendirinya ia akan  terbuka terhadap masukan dan kritik dari followers baik yang membangun  maupun yang destruktif.</p>
<p><strong>Hilang Peluang</strong><br />
Apa dampaknya jika CEO dari begitu banyak perusahaan besar di Indonesia  tidak menggunakan Twitter? Dampaknya selintas sepele, namun kalau kita  telusur lebih lanjut, luar biasa besarnya. Dengan tidak mengadopsi  Twitter, Facebook, atau blog, ia akan kehilangan peluang yang luar biasa  untuk bisa berinteraksi dan membangun koneksi (<strong>emotional connection</strong>) dengan pelanggan, karyawan, partner bisnis, dan anggota stakeholders perusahaan lainnya.</p>
<p>Si CEO juga melewatkan peluang untuk menjadi <strong>advocator </strong>dan <strong>evangelist </strong>bagi perusahaan yang ia pimpin. Seperti dilakukan <strong>Tony Hsieh</strong>, CEO <strong>Zappos</strong>,  kehadiran CEO di media sosial bisa mendongkrak corporate brand dari  organisasi yang dipimpinnya. Dengan cerdas Tony Hsieh  menggunakan  Twitter untuk mengomunikasikan nilai-nilai budaya perusahaan (disebut <strong>Core Values Frog</strong>,  CVF) baik secara internal ke seluruh karyawan, maupun secara eksternal  ke pelanggan dan stakeholders terkait. Hasilnya luar biasa, reputasi  Zappos terdongkrak naik dan ujung-ujungnya sales meroket tajam.</p>
<p>Media sosial seperti Twitter adalah medium yang ampuh untuk mendengar  suara konsumen. Karena itu, dengan berinteraksi intens dengan konsumen  melalui Twitter, CEO juga bisa mendapatkan <strong>insight</strong>-<strong>insight </strong>sangat  berharga mengenai produk dan layanan langsung dari tangan pertama di  pasar. CEO bisa mendapatkan masukan-masukan bermanfaat dari karyawan  mengenai berbagai isu organisasi mulai dari budaya perusahaan,  kebijakan-kebijakan yang ia ambil, atau sistem-sistem yang sedang  dijalankan. Dengan tidak hadir di jagat media sosial, sekali lagi CEO  kehilangan peluang sangat berharga.</p>
<p><strong>Lambat</strong><br />
Beberapa tahun terakhir ini saya intens mengamati penerapan media sosial  sebagai strategic tools untuk membangun daya saing perusahaan di  Indonesia. Kesimpulan saya, adopsi dan penerapan media sosial ini,  khususnya untuk perusahaan besar, berjalan lambat. Memang banyak  perusahaan yang sudah punya akun Twitter dan Facebook. Banyak juga yang  sudah memiliki corporate blog. Tapi sangat sedikit yang mengelolanya  secara benar dan dilandasi pertimbangan-pertimbangan strategis.</p>
<p>Salah satu sebab kuncinya, menurut saya, adalah tak adanya <strong>sponsorship </strong>dari  CEO sebagai pucuk pimpinan perusahaan. Banyak inisiatif penerapam media  sosial di perusahaan diprakarsai oleh kalangan manajer di level tengah.  Kalangan manajer ini umumnya masih muda dan sangat “<strong>social media freak</strong>”  sehingga mereka sangat exciting dan bersemangat melakukannya. Masalah  muncul karena ia tak cukup mendapatkan dukungan dari CEO disebabkan  berbagai alasan seperti saya sebutkan di atas.</p>
<p>Kalau sponsorship dari CEO lemah, maka bisa diduga insiatif  seambisius apapun akan melempem di tengah jalan. Inisiatif itu kurang  mendapatkan resources memadai karena tidak menjadi prioritas perusahaan.  Inisiatif itu juga terlokalisir menjadi program taktikal yang punya  efek minimal bagi kinerja perusahaan. Kalau sudah begitu maka peran  media sosial sebagai strategic tools untuk mendongkrak daya saing  perusahaan pun menjadi tak berarti. Tak heran jika kasus-kasus penerapan  strategi media sosial yang breakthrough tak kunjung kita dapati di  negeri ini.</p>
<p>Indonesia membutuhkan CEO-CEO yang visionary dan berwawasan media  sosial. Karena itu melalui artikel ini saya mau curi-curi pasang iklan  baris. Bunyinya: “<strong>Dicari: CEO Yang Ngetwit!</strong>”</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/09/dicari-ceo-yang-ngetwit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Energi Negatif! Energi Positif!</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/02/energi-negatif-energi-positif/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/02/energi-negatif-energi-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 01:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<category><![CDATA[Marketing Strategy]]></category>

		<category><![CDATA[entrepreneur 3000]]></category>

		<category><![CDATA[Harry Van Yogya]]></category>

		<category><![CDATA[Sidang Paripurna BBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Blog:&#160;http://www.yuswohady.com   &#124;  Twitter: @yuswohady
Kamis Malam (29/3) saya demam luar biasa, terkena radang tenggorokan.  Sendi-sendi linu bukan main, badan greges-greges. Sekujur tubuh seperti  ditinju bogem mentah Muhammad Ali, sakit semua. Karena  itu hari Jumatnya saya fully bedrest, terkapar tanpa daya. Hari itu  Jakarta, Medan, Yogya, Makasar, dan puluhan kota lain di seantero [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog:&nbsp;<a href="http://www.yuswohady.com  " title="http://www.yuswohady.com  " target="_blank">http://www.yuswohady.com  </a> |  Twitter: @yuswohady</p>
<p>Kamis Malam (29/3) saya demam luar biasa, terkena radang tenggorokan.  Sendi-sendi linu bukan main, badan greges-greges. Sekujur tubuh seperti  ditinju bogem mentah <strong>Muhammad Ali</strong>, sakit semua. Karena  itu hari Jumatnya saya fully bedrest, terkapar tanpa daya. Hari itu  Jakarta, Medan, Yogya, Makasar, dan puluhan kota lain di seantero  Nusantara panas oleh demo BBM. Di tengah keterkaparan, saya khusuk  mengikuti menit demi menit aksi mahasiswa membela rakyat melalui layar  beberapa stasiun TV nasional. Jari-jemari saya lincah menari di ujung remote control gonta-ganti channel memburu  peristiwa-peristiwa demo BBM paling gres.</p>
<p>Tentunya, seperti 240 juta rakyat Indonesia yang lain, momen-momen  mendebarkan yang paling saya tunggu adalah Sidang Paripurna untuk  mengambil keputusan kenaikan BBM. Drama Sidang Paripurna kenaikan BBM  akhirnya bisa saya saksikan lepas Magrib, setelah beberapa stasiun TV  menayangkannya live dari gedung DPR.</p>
<p><strong>Energi Negatif</strong><br />
Belum seperempat jam menyaksikan Sidang Paripurna, kepala saya yang  sudah pening jadi tambah pening luar biasa. Pelan-pelan perut saya mulai  mual-mual, serasa bubur Menado yang pagi saya santap mau tumpah-ruah di  kasur. Bogem Muhammad Ali pun terasa bertambah kencang dari awalnya 100  pukulan permenit menjadi 1000 pukulan permenit. Menonton tayangan layar  kaca, saya sedih luar biasa, sambil mengelus dada: “Ooow begini ini ya  wakil rakyat kita kalau sedang rapat”.</p>
<p>Terus-terang baru kali ini saya tahu detil isi dan suasana sidang  para wakil rakyat yang super terhormat. Terus-terang saya shock luar  biasa melihat suasana rapat yang lebih pantas saya lihat di <strong>Terminal Pulogadung</strong>, ketimbang di <strong>Gedung DPR</strong> yang terhormat. Bagaimana tidak shock, di rapat yang sangat keramat itu  saya melihat tidak ada yang namanya sopan-santun rapat; tidak ada etika  bermusyawarah, tak ada tenggang-rasa antar peserta, <strong>learderless </strong>alias  seolah tidak ada pemimpin sidang, sehingga kondisinya chaotic, kacau  balau, sama sekali jauh dari substansi sidang yang diharapkan 240 juta  rakyat Indonesia. Peserta sidang terlihat <strong>kekanak-kanakan</strong>. Saya tak melihat ada <strong>wisdom</strong> dan <strong>kearifan</strong> sosok wakil rakyat di ruangan itu. Saya tidak melihat ada <strong>nurani </strong>di ruangan maha terhormat itu.</p>
<p>Bagaimana nggak chaos, ketika pimpinan sidang bicara, sekitar  sembilan hingga sepuluh peserta secara bersamaan ngoceh ngelantur sampai  saya susah menangkap apa isi omongan pemimpin sidang. Pemimpin sidang  dilecehkan oleh peserta seperti tak ada harganya sama sekali. Sambil  mengelus dada saya berpikir, “Lha wong debat di warung kopi saja tidak  sekrodit, sekacau, dan seblunder ini”. Semua peserta saling berebut  untuk bisa bicara, tak bisa dipotong dan dihentikan. Masing-masing mau  menangnya sendiri. Siapa yang omongannya paling keras (“ala preman”), ia  yang menguasai diskusi. Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin nasib  240 juta orang ditentukan oleh forum macam ini.</p>
<p>Celakanya, (ini yang membuat saya makin mules) di tengah  serius-seriusnya peserta berdebat untuk membela nasib 240 juta rakyat,  kok masih sempat-sempatnya ada peserta yang gojeg di depan mikropon  menyanyi lagunya <strong>mbah Surip</strong>: “Tak gendhong,  kemana-mana”. Parah!!! Begitu pula ketika ada fraksi yang memutuskan  untuk walk-out karena merasa aspirasinya tak didengar oleh pimpinan  sidang, yang terjadi seluruh peserta justru girang menyorakinya,  bukannya menyesalkan karena dengan begitu aspirasi rakyat terkebiri.  Sungguh kekanak-kanakan. Sungguh memalukan</p>
<p>Karena Muhammad Ali makin mengganas meninju-ninju kepala saya, saya  limbung. Di tengah keterlimbungan itulah saya berpikir bahwa saya sedang  menonton sinetron. Sinetron yang sarat dengan intrik, penuh dengan  sandiwara, pekat diwarnai konflik dan perebutan kepentingan, sarat  dengan pembonsaian akal sehat. Tapi akhirnya saya sadar apa yang saya  tonton itu nyata. Sebuah kenyataan yang memalukan. Serta-merta saya pun  kemudian berdoa, semoga <strong>CNN </strong>atau <strong>BBC </strong>tidak ikut-ikutan menyuplik tayangan itu untuk diekspor ke seluruh dunia.</p>
<p><strong>Energi Positif</strong><br />
Menyaksikan sidang paripurna membuat saya semakin terkapar di-KO  Muhammad Ali. Di tengah keterkaparan yang kian meradang, jari-jemari  saya masih menari-nari di ujung remote control. Secepat kilat saya  menemukan channel acara konser musik rock dini hari yang menampilkan  selingan obrolan dengan <strong>Harry Van Yogya</strong>. Belum 2 menit mendengarkan tuturan inpiratif dari sosok satu ini, tak tahu kenapa otak saya mendadak terang.</p>
<p>Harry (45) adalah tukang becak di Jl Prawirotaman, Yogyakarta yang menggunakan <strong>Friendster </strong>(dulu), <strong>Facebook</strong>, <strong>Twitter</strong>, bahkan blog di <strong>Multiply </strong>untuk menarik konsumen dari seantero jagat (saya sebut dia <a href="http://www.yuswohady.com/2011/12/24/entrepreneur-nasionalis/" target="_blank"><strong>Tukang Becak 3000</strong></a>). Narik becak kemanapun ia selalu membawa laptop untuk bisa <strong>stay connect</strong> dengan dunia maya. Ia seorang blogger yang aktif mempromosikan  Yogyakarta sekaligus menarik konsumen menggunakan jasanya. Untuk  membangun loyalitas pelanggan, ia melakukan <strong>conversation </strong>dan <strong>engagement </strong>dengan  menggunakan Facebok &nbsp;<a href="http://facebook.com" title="http://facebook.(" target="_blank">facebook.com</a>) dan Twitter (#FF  @harryvanyogya). “Kalau malam, Twitter ramai banget. Saya sibuk balas  mention satu persatu,” ujarnya.</p>
<p>Harry pernah kuliah di jurusan Matematika Universitas Sanata Dharma,  tapi kemudian kandas karena bapaknya yang tukang becak tak sanggup  membiayai. Karena itu ia kemudian banting setir menjadi tukang becak  seperti ayahnya. Sampai kini Harry sudah menekuni profesi ini selama  lebih dari 20 tahun dengan penuh keikhlasan, kejujuran, dan kebanggaan.  Berbekal kemauan belajar yang luar biasa, Harry menjadi sosok tukang  becak yang luar biasa. Ia menguasai dua bahasa, <strong>Inggris </strong>dan <strong>Belanda</strong>,  karena itu ia konfiden menawarakan jasa ke seluruh dunia dengan  menggunakan media sosial. Tak hanya itu, melalui jagat maya ia juga  menjadi <strong>ambasador </strong>bagi pariwisata Yogya.</p>
<p>Walaupun kini dia sudah menjadi selebriti karena sudah nongol puluhan  kali di acara TV dan halaman koran-majalah, tapi Harry tetap bersahaja,  “Profesi utama saya tetap tukang becak. Saya nggak mau seperti Briptu  Norman,” ujarnya polos.</p>
<p>Inspirasi, keteladanan, kearifan, kreativitas dan langkah out of the  box Harry Van Yogya mengembalikan optmisme saya mengenai negeri ini,  setelah beberapa jam sebelumnya luluh-lantak oleh ulah dan perilaku  kanak-kanak para wakil rakyat. Harry Van Yogya, si tukang becak hebat,  memberi saya suntikan energi positif yang luar biasa.</p>
<p>Energi positif itu demikian hebatnya, sehingga mendadak pening saya  lenyap, linu-linu persendian sirna, badan greges-greges hilang. Tak  hanya itu, kini gantian Muhammad Ali yang KO karena kecapaian meninju  saya.</p>
<p>Untung ada Harry Van Yogya. Di tengah runyam dan karut-marutnya  negeri ini, kita masih beruntung karena punya orang-orang nyentrik dan  luar biasa seperti tukang becak hebat ini. Viva Indonesia!!!</p>
<p>Kalau saya jadi orang yang ikut rapat paripurna BBM, saya <strong>malu </strong>sama mas Harry!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/02/energi-negatif-energi-positif/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Experiencer</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/26/experiencer/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/26/experiencer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 06:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[Consumer Behavior]]></category>

		<category><![CDATA[experiencer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Saya menulis artikel ini sambil menuggu nonton pentas Teater Koma Sie Jin Kwie di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) kemarin sore (24/3).  Pertunjukan baru jam delapan malam, tapi jam empat saya sudah di TIM,  takut nggak kebagian tiket. Maklum sehari sebelumnya seorang teman sudah  wanti-wanti tiket ludes. Betul juga, lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menulis artikel ini sambil menuggu nonton pentas <strong>Teater Koma Sie Jin Kwie</strong> di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) kemarin sore (24/3).  Pertunjukan baru jam delapan malam, tapi jam empat saya sudah di TIM,  takut nggak kebagian tiket. Maklum sehari sebelumnya seorang teman sudah  wanti-wanti tiket ludes. Betul juga, lihat di monitor kursi yang  di-book, nggak sampai 20 kursi yang masih tersedia. Hebat juga, sudah 24  hari (pertunjukan Teater Koma direncanakan 1-31 Maret 2012)  pertunjukkan, tiket masih sold out.</p>
<p><strong>Bukan Satu-Satunya</strong><br />
Sukses pentas Teater Koma bukanlah satu-satunya sukses pentas pertunjukan di Jakarta. Sebelumnya pentas drama musikal <strong>Laskar Pelangi</strong> juga meraup sukses luar biasa. Pertunjukannya di TIM pada akhir 2010  sukses, berlanjut di bulan Juli 2011 sekali lagi mendulang sukses, lalu  terakhir Laskar Pelangi mencapai sukses yang sama saat dibesut di Dufan  Desember 2011/Januari 2012. Kesimpulan sementara saya, ibu-ibu kelas  menengah Jakarta haus dengan pertunjukan berkualitas, intelek, dan  mendidik macam ini.</p>
<p>Beberapa minggu lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah pertunjukan teater di Indonesia, pentas <strong>Broadway </strong>New York bisa diboyong ke Jakarta melalui pentas <strong>Phantom of the Opera </strong>di  Balai Kartini. Pertunjukan hampir sebulan ini bisa disebut sukses  walaupun tiketnya tidak bisa dibilang murah berkisar antara 500 ribu  hingga 1,5 juta perak. Harap tahu saja, tidak gampang lho memahami  pentas seperti Phantom of the Opera. Penikmatnya mestinya punya cita  rasa dan pengetahuan yang cukup untuk mencernanya.</p>
<p>Kalau diperlebar ke pentas pertunjukan musik, maka kita pasti akan  terkagum-kagum melihat fenomena begitu derasnya artis asing berkonser di  negeri ini. Sebuah situs musik dan hiburan memperkirakan setidaknya  tahun 2012 ini akan ada sekitar 100 pertunjukan musik yang mendatangkan  artis asing khususnya Amerika. Setidaknya tahun ini telah dan akan hadir  artis-artis top penguras devisa mulai dari <strong>Rod Steward, Katy Perry, Lady Gaga, New Kids on the Block, Backstreet Boys, </strong>hingga<strong> Sepultura </strong>dan <strong>Deam Theater</strong>.</p>
<p>Ambil contoh konser Lady Gaga, tiketnya berkisar 500 ribu hingga 2,5  juta perak, saya kira bukanlah harga murah. Tapi tetap saja Lady Gaga  menjadi magnet yang mampu menguras kocek para penggemarnya. Ada yang  karena memang ingin mendengarkan musik dan menyaksikan aksi panggungnya,  tapi banyak juga yang nonton agar teman-teman tahu (yup, melalui status  update Facebook atau tweet di Twitter) bahwa ia menonton Lady Gaga.</p>
<p><strong>Global-Minded</strong><br />
Pertanyaannya, ada apa sesungguhnya di balik fenomena maraknya bisnis  pertunjukkan di Tanah Air tersebut? Saya tak akan menjawab pertanyaan  tersebut dari sisi kehebatan si bintang seperti Lady Gaga atau karena  kecanggihan para promotor musik dalam merayu calon penonton. Saya akan  meninjaunya dari sisi perilaku konsumen (consumer behavior) kita yang  kini berubah begitu cepat.</p>
<p>Seiring dengan meningkatnya daya beli dan pengetahuan konsumen  perkotaan di Tanah Air, kini muncul segmen pasar yang saya sebut sebagai  “<strong>experiencer</strong>”. Konsumen baru yang saya prediksi  jumlahnya besar dan terus bertambah ini umumnya memiliki pendapatan dan  daya beli yang cukup tinggi sehingga kebutuhannya semakin advance, tak  melulu kebutuhan dasar seperti sandang-pangan-papan.</p>
<p>Segmen konsumen ini juga sangat knowledgable karena memiliki akses  informasi melalui internet dan media sosial yang luar biasa. Karena  memiliki akses informasi yang luas, maka mereka memiliki global view,  rakus mengadopsi gaya hidup global (yes, gaya hidup “<strong>Sex and the City</strong>”), dan pengonsumsi pertama produk-produk global terbaru (yes,<strong> iPad 3</strong>).  Melalui Twitter mereka mengikuti apa yang dilakukan Lady Gaga menit  demi menit. Mereka juga begitu bernafsu mengikuti film-film bermutu  peraih Oscar atau Golden Globe (yes, <strong>Hugo </strong>atau <strong>The Artist</strong>, dan pasti bukan film <strong>Kuntilanak </strong>dan <strong>Suster Ngesot</strong>).</p>
<p><strong>Penikmat</strong><br />
Kenapa mereka saya sebut experiencer? Karena ketika kebutuhan untuk  makan kenyang sudah lewat, maka kebutuhan mereka meningkat ke arah yang  lebih advance yaitu mendapatkan pengalaman (<strong>experience</strong>).  Mereka menonton Lady Gaga untuk mendapatkan pengalaman luar biasa  bernyanyi bersama, berjoget bersama, dan narsis bersama di dalam gedung  pertunjukan. Mereka nonton Phantom of the Opera untuk mendapatkan  pengalaman larut dalam kisah percintaan, tragedi, dan horor ala Broadway  yang dibangun oleh sang sutradara.</p>
<p>Jangan salah, orang ke mal bukanlah semata untuk membeli barang yang  ia butuhkan. Kita ke mal untuk mendapatkan pengalaman luar biasa melihat  dan dilihat (<strong>see and to be seen</strong>) orang lain. Kenikmatan nge-gym di <strong>Celebrity Fitness</strong> bukanlah untuk mendapatkan kebugaran dan mandi keringat, tapi  pengalaman menggairahkan melihat dan dilihat orang lain (yes, itu  sebabnya Celebrity Fitness selalu ada di mal dengan kaca etalase yang  terbuka lebar). Begitupun orang ke <strong>Starbuck </strong>atau <a href="http://www.yuswohady.com/2011/12/10/2pm-7-eleven/" target="_blank"><strong>7-Eleven</strong></a> bukanlah semata untuk menenggak <strong>Espresso Macchiato</strong> atau <strong>Slurpee</strong>. Kenikmatan terbesar mereka diperoleh melalui pengalaman nongkrong di tempat-tempat cool tersebut.</p>
<p>Itulah manusia. Itulah konsumen. Semakin punya banyak duit, semakin  otaknya berisi macam-macam, maka kebutuhannya pun menjadi semakin nggak  karuan, semakin macam-macam, semakin aneh-aneh. Itu sebabnya setiap kali  mertua saya yang sudah kepala 7 saya ceritakan mengenai polah-tingkah  konsumen baru Jakarta ini, ia selalu mengelus dada, sambil bergumam:  “Apa dunia ini mau kiamat ya?” Hahahaha…!!!</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/26/experiencer/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MPA: Mimpi, Percaya, Aksi</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/19/mpa-mimpi-percaya-aksi/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/19/mpa-mimpi-percaya-aksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 02:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<category><![CDATA[community leader]]></category>

		<category><![CDATA[social entrepreneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari terakhir ini secara kebetulan saya ketemu dengan tiga orang hebat. Mereka adalah Djito Kasilo, mbak Ainun Chomsun, dan Badroni Yuzirman. Mereka orang-orang hebat karena melalui gagasan dan karyanya telah mengubah dunia. “Change the world!”
Dengan Djito Kasilo saya ketemu kemarin malam (16/3) nongkrong  ngobrol ngalor-ngidul di La Piazza sampai mal tutup. Kami bertiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini secara kebetulan saya ketemu dengan tiga orang hebat. Mereka adalah <strong>Djito Kasilo</strong>, mbak <strong>Ainun Chomsun</strong>, dan <strong>Badroni Yuzirman</strong>. Mereka orang-orang hebat karena melalui gagasan dan karyanya telah mengubah dunia. “<strong>Change the world</strong>!”</p>
<p>Dengan Djito Kasilo saya ketemu kemarin malam (16/3) nongkrong  ngobrol ngalor-ngidul di La Piazza sampai mal tutup. Kami bertiga dengan  satu teman lain, vokalis sebuah grup progressive rock, memang punya  tradisi “malam Sabtuan” beberapa bulan sekali di tempat ini ngelantur  ngomongin macam-macam hal mulai dari <strong>Rendra </strong>hingga <strong>Kafka</strong>; <strong>The Beatles</strong> hingga <strong>Miles Davis</strong>; <strong>Newton </strong>hingga <strong>Hawking</strong>; <strong>Darwin </strong>hingga <strong>Freud</strong>;  sampai kuliner mana yang enak di Boulevard Kelapa Gading (yup, isu  politik: Nazaruddin, Anas, naik BBM tidak masuk dalam radar obrolan  kami).</p>
<p><strong>Lirik Karakter</strong><br />
Bagi saya Djito hebat karena ia menggagas <a href="http://marinyanyi.com/" target="_blank"><strong>marinyanyi.com</strong></a>,  sebuah situs yang inspiring dan menyentuh hati kita semua. Setiap hari  dia mencipta satu lagu anak-anak, di-upload di situs tersebut, lalu  membebaskan siapapun untuk mengunduhnya. “Hak cipta lagu ini milik  Tuhan,” selorohnya. Siapapun bisa mengunduhnya: anak-anak kampung,  guru-guru TK, ibu-ibu rumah tangga. Bahkan siapapun bisa memesan lagu ke  Ayah (panggilan Djito) secara gratis melalui situs&nbsp;<a href="http://marinyanyi.com" title="http://marinyanyi. " target="_blank">marinyanyi.com</a>.</p>
<p>Aksi Djito dilandasi keprihatinannya mendapati anak-anak sekarang lebih suka menyanyi “<strong>Cinta Satu Malam</strong>” ketimbang “<strong>Pelangi</strong>” atau “<strong>Bintang Keci</strong>l”.  Melalui situs itu Djito punya mimpi dan misi luar biasa untuk membentuk  karakter bangsa melalui lirik-lirik lagu yang menginspirasi dan  menggugah anak-anak. “Pembentukan karakter itu penting, dan itu harus  dilakukan sejak anak-anak. Salah satunya dengan lagu yang berisi  pesan-pesan yang baik,” ujarnya.</p>
<p><strong>Spirit Berbagi</strong><br />
Saya ketemu mbak Ainun Chomsun dalam sebuah seminar di Bandung beberapa  hari lalu, kebetulan kami sama-sama diminta menjadi pembicara. Seperti  Djito Kasilo, mbak Ainun adalah ibu hebat karena menggagas <a href="https://twitter.com/#%21/akademiberbagi" target="_blank"><strong>Akademi Berbagi</strong></a>, sebuah komunitas yang mengusung misi mulia mengobarkan semangat berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman.</p>
<p>Bentuknya kelas-kelas pendek yang diajar oleh para pakar voluntir  (hehe, saya beberapa kali ikutan mengajar) yang dibesut secara voluntir  di berbagai kota di Tanah Air. Kelasnya berpindah-pindah sesuai dengan  ketersediaan ruang kelas yang disediakan oleh para donatur ruangan.  Siapapun bisa ikut kelas-kelas ini, gratis.</p>
<p>Ide di balik Akademi Berbagi luar biasa, karena di tengah  kapitalisme, materialisme, egoisme yang sudah merasuki keseharian kita,  komunitas ini menawarkan solusi alternatif yang cespleng. Akademi  Berbagi menyuarakan <strong>spirit of giving</strong>. Ia menumbuh-suburkan <strong>spirit of learning</strong>.  Ia menyebarluaskan pengetahuan yang bermanfaat. Ia memberdayakan  potensi-potensi anak negeri untuk membangun pendidikan demi kemajuan  Indonesia. Wow, luar biasa indah.</p>
<p><strong>Entrepreneur Mulia</strong><br />
Terakhir, saya ketemu Badroni Yuzirman di kampus UI saat saya diminta bicara di komunitas <a href="http://tangandiatas.com/" target="_blank"><strong>Tangan Di Atas</strong></a> (<strong>TDA</strong>)  Depok seminggu lalu. Mas Roni juga hebat karena merintis sebuah  komunitas para entrepreneur, TDA. Komunitas ini menghimpun orang-orang  yang mau dan sudah menjadi entrepreneur. TDA memiliki misi luar biasa  yaitu mencetak ribuan entrepeneur mulia (entrepreneur yang berbagi dan  memberi, bukan yang selfish). Di dalam komunitas ini mereka saling  berbagi, saling mendukung, memecahkan persoalan bersama, dan bersinergi  satu sama lain.</p>
<p>Beragam kegiatan produktif dilakukan oleh TDA mulai dari seminar,  workshop, pameran, milis, business coach, hingga kelompok diskusi  Mastermind. Semua kegiatan itu dijalankan untuk memfasilitasi dan  mengantarkan anggota menjadi entrepreneur yang sukses. Hebatnya, semua  aktivitas itu dilakukan dengan spirit kekeluargaan, kebersamaan,  tolong-menolong, trust. Hebatnya lagi, semua kegiatan itu dilakukan  secara mandiri tanpa suntikan dana Inpres atau APBN yang membutuhkan  persetujuan <strong>Banggar</strong>.</p>
<p><strong>MPA</strong><br />
Ada hal yang sama dari ketiga orang hebat teman saya tersebut. Pertama,  mereka punya mimpi. Mimpi untuk melakukan pembaruan; mimpi untuk  menghasilkan solusi bagi kemandegan yang ada di lingkungannya (true,  mereka adalah <strong>social entrepreneur</strong>); mimpi untuk berkontribusi dan menghasilkan kebermanfaatan bagi masyarakat. Mimpi untuk mengubah dunia.</p>
<p>Kedua, mereka percaya sepenuhnya bahwa mimpi itu bisa diwujudkan.  Banyak orang yang bisa bermimpi besar, tapi tak banyak yang berpikir  lebih jauh bahwa mimpi itu harus diwujudkan. Dan lebih tak banyak lagi  yang punya keyakinan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan. Kepercayaan  (belief) bisa mewujudkan mimpi adalah modal luar biasa yang dimiliki  orang-orang hebat. Itu sebabnya saya suka lagu R. Kelly, “<strong>I Believe I Can Fly</strong>” sebagai penyemangat dalam berkarya.</p>
<p>Ketiga, mereka tidak tinggal diam. Mimpi dan kepercayaan di atas  menjadi energi luar biasa bagi mereka untuk melakukan aksi (action).  Mimpi dan kepercayaan menjadi kompas sekaligus bara api yang terus  menyemangati aksi untuk menghasilkan karya-karya fenomenal. Dengan aksi,  sebuah mimpi akan bisa menemukan kebermanfaatannya bagi orang banyak.</p>
<p>MPA = Mimpi-Percaya-Aksi</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/19/mpa-mimpi-percaya-aksi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melamun Adalah Harta Karun</title>
		<link>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/12/melamun-adalah-harta-karun/</link>
		<comments>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/12/melamun-adalah-harta-karun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 02:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuswohady</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Consumer 3000]]></category>

		<category><![CDATA[konsumen kelas menengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yuswohady.blogdetik.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Kemunculan konsumen kelas menengah secara  massal merupakan fenomena baru di Indonesia. Kelas konsumen baru ini   muncul sebagai dampak dari meningkatnya kemampuan ekonomi dan daya beli  masyarakat. Makin makmurnya konsumen (apalagi mereka juga makin  terdidik) mengubah pola pikir dan perilaku dalam membeli dan mengonsumsi  barang. Perubahan perilaku konsumen ini menciptakan peluang-peluang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemunculan <strong><a href="http://www.yuswohady.com/2010/12/04/consumer-3000/" target="_blank">konsumen kelas menengah</a> </strong>secara  massal merupakan fenomena baru di Indonesia. Kelas konsumen baru ini   muncul sebagai dampak dari meningkatnya kemampuan ekonomi dan daya beli  masyarakat. Makin makmurnya konsumen (apalagi mereka juga makin  terdidik) mengubah pola pikir dan perilaku dalam membeli dan mengonsumsi  barang. Perubahan perilaku konsumen ini menciptakan peluang-peluang  baru yang luar biasa bagi entrepreneur. Saya bahkan berani mengatakan  lima tahun ke depan Indonesia akan menghadapi “<strong>era sejuta peluang</strong>” yang terjadi karena fenomena revolusi kelas menengah.</p>
<p>Munculnya begitu banyak peluang pasar ini tak didominasi oleh  segelintir bidang, tapi terjadi hampir di semua industri dan sektor. Tak  hanya di sektor barang (goods) tapi juga jasa (services); tak hanya  sektor B2B (business to business) tapi juga B2C (business to consumer);  tak hanya di kota tapi juga di desa. Nggak usah mikir yang sulit-sulit,  coba kita lihat contoh-contoh gampang berikut ini.<br />
<strong><br />
Beras Diabetes</strong><br />
Dulu yang namanya beras ya untuk bikin kenyang, untuk mengganjal perut.  Tapi dengan meningkatnya kesadaran kelas menengah akan kesehatan, kini  mulai banyak konsumen kelas menengah mengonsumsi beras untuk tujuan  sehat. Banyak label yang diberikan untuk menyebut beras “sehat” ini. Ada  yang menyebutnya beras merah, beras anti diabetes, beras organik, dsb.  Beras <strong>Taj Mahal</strong> adalah salah satu merek beras sehat  yang jeli memanfaatkan maraknya konsumen kelas menengah. Produk asal  Malaysia ini bahkan mengklaim dapat mencegah diabetes, ejakulasi dini,  mengatasi berat badan, dan mempercepat proses diet. Bisa dipastikan  konsumen kelas menengah akan berseloroh, “<strong>Ini beras gue banget!</strong>”</p>
<p><strong>Konser Tiap Minggu</strong><br />
Selama tiga tahun terakhir kita menyaksikan fenomena yang luar biasa di  Jakarta, yaitu maraknya konser artis asing beragam musik dari pop, rock,  hingga jazz. Yang mencengangkan adalah, konser-konser bertiket mahal  itu laris-manis. Bahkan untuk beberapa konser seperti <strong>Katy Perry</strong> tiket bisa sold-out dalam ukuran jam. <strong>Lady Gaga</strong> konser baru bulan Juni mendatang, tapi kemarin (11/3) ribuan orang  sudah antresejak dini hari. Nggak hanya itu, karena kapasitas  pengetahuan dan global view-nya, kini konsumen kelas menengah juga mulai  mencari hiburan-hiburan berkelas ala teater Broadway (<strong>Phantom of the Opera</strong>) atau drama musikal (<strong>Laskar Pelangi</strong>).</p>
<p><strong>Wine Freak</strong><br />
Rutin mengonsumsi wine sebelumnya hanya ada di kalangan bule-bule  ekspatriat. Namun karena kemampuan menyerap informasi (melalui TV kabel,  Googling, Facebook, Twitter), konsumen kelas menengah mulai tahu  bagaimana tradisi minum wine itu. Karena itu sejak beberapa tahun  terakhir banyak bermunculan wine lounge (seperti <strong>Vin+</strong>) dan komunitas-komuintas penikmat wine (seperti <strong>Vox Populi</strong> atau <strong>Wine Spirit Lover</strong>) di Jakarta dan kota-kota besar Tanah Air. Minum wine tidak lagi luxury, tapi sudah menjadi <strong>mass luxury</strong>.</p>
<p><strong>“See and to be Seen” </strong><br />
Ketika kebutuhan perut sudah tercukupi, maka kebutuhan konsumen kelas menengah naik kelas ke kebutuhan yang “<strong>aneh-aneh</strong>”.  Salah satunya adalah kebutuhan narsis dalam rangka eksistensi diri dan  aktualisasi diri. Itu sebabnya gerai atau kafe di mal yang menawarkan  value “see and to be seen” menjamur luar biasa. Terdapat tren <strong>McDonalds</strong> atau <strong>KFC</strong> keluar mal untuk menangkap konsumen kelas menengah yang hobinya  nongkrong sambil ber-“see and to be seen” ria hingga menjelang Subuh.  Gerai seperti <a href="http://www.yuswohady.com/2011/12/10/2pm-7-eleven/" target="_blank"><strong>7-Eleven</strong></a> menikmati sukses luar biasa karena cerdik menangkap peluang kelas menengah dengan gaya hidup baru ini.</p>
<p><strong>Lab Asam Urat </strong><br />
Saya punya seorang teman yang memiliki bisnis laboratorium kesehatan  untuk pengujian kadar kolesterol, asam urat, hingga gula darah. Dengan  mata berbinar-binar si teman bercerita kepada saya betapa bisnis lab  saat ini menggeliat luar biasa. Kenapa? Karena, kata dia, saat ini mulai  terbentuk kebiasaan di kalangan konsumen kelas menengah kita untuk  berobat secara preventif, bukan kuratif. Dulu kita baru datang ke rumah  sakit kalau kita sudah meriang-meriang atau mencret-mencret. Kini, orang  segar-bugar datang ke rumah sakit untuk tahu berapa kadar asam urat  atau mencari tahu apakah jeroan-nya bekerja normal. Ini, ujar teman  saya, merupakan peluang luar biasa bagi bisnis lab. “Semakin maju dan  makmur suatu negara, maka makin banyak pasien yang datang ke rumah  sakit. Sebagian besar mereka ke rumah sakit bukan dalam keadaan  demam-deman atau mencret-mencret, tapi segar-bugar,” seloroh teman saya.</p>
<p><strong>Harta Karun</strong><br />
Sederet pasar-pasar baru, produk-produk baru, atau bisnis-bisnis baru di  atas adalah sebagian kecil saja dari begitu banyaknya peluang-peluang  baru yang muncul sebagai akibat munculnya konsumen kelas menengah baru  di Indonesia. Ketika “era sejuta peluang” sudah di depan mata, maka  hanya ada satu tekad bagi entrepreneur Indonesia: <strong>BANGKIT!!! </strong></p>
<p>Ketika peluang-peluang pasar baru bertebaran, maka indra penciuman  para entrepeneur harus lebih tajam. Caranya bagaimana? Saya punya dua  tips. <strong>Pertama</strong>, <strong>amati orang-orang di sekeliling Anda</strong>.  Di manapun Anda berada — di mal, di airport, suntuk di tengah  kemacetan, di terminal bis, di dalam busway, di kantor, di pasar, di  kantin, di acara pernikahan, di forum-forum seminar, nonton TV,  mendengarkan radio, semuanya — Anda harus mengamati dengan seksama  gerak-gerik dan perilaku mereka, apa yang mereka bicarakan, bagaimana  bahasa tubuh mereka, dsb-dsb. Semakin banyak Anda mengamati, semakin  banyak pula ide-ide bisnis Anda peroleh.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, <strong>perbanyaklah melamun</strong>.  Setelah Anda mengamati orang-orang di sekeliling Anda, bawalah amatan  itu ke otak Anda. Paksa otak Anda bekerja keras untuk menemukan  insight-insight bisnis di balik amatan-amatan tersebut. Umbarlah mimpi  Anda. Umbarlah ide-ide gila Anda. Lakukan itu dengan passion, tanpa  kenal tempat, tanpa kenal waktu, kalau perlu sampai dibawa mimpi.  Pengalaman pribadi, momen paling favorit bagi saya untuk melamun ada  dua: saat beol pagi-pagi dan saat nyetir terjebak kemacetan di belantara  jalan Jakarta.</p>
<p>Di Jakarta waktu berjalan demikian cepat, semua orang sibuk, semua  orang dikejar-kejar deadline pekerjaan. Tapi percayalah saya, Anda harus  menyediakan cukup waktu untuk melamun. Ingat! <strong>Melamun adalah harta karun paling berharga Anda di “era sejuta peluang.”</strong></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yuswohady.blogdetik.com/2012/03/12/melamun-adalah-harta-karun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.983 seconds -->

