• 14

    Apr

    Twitter SBY

    Seharian, hari Sabtu kemarin (13/4) saya menthengin akun Twitter @SBYudhoyono, pagi hingga detik-detik menjelang rampungnya tulisan ini malam hari. Tentu saja ini akun spesial, karena resmi milik pak presiden. Di akun tersebut tertulis: “Akun Resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dikelola oleh Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Twit dari Presiden ditandai *SBY*.” Ada satu hal yang saya tunggu dari akun ini, yaitu sepatah twit dari si empunya akun. Namun celaka tiga belas, sampai kata-kata terakhir kolom ini ditulis, tak sepatah twit pun saya temukan. Yang saya dapati justru jumlah follower yang melesat bak meteor hingga mencapai ratusan ribu orang dalam ukuran jam. Ya, memang buzz mengenai bakal “go twitter”-nya pak SBY beberapa hari ini membahana
    Read More
  • 28

    Jan

    Chief Community Officer

    Ide tulisan ini datang dari obrolan saya dengan mbak Petty Fatimah dari majalah Femina dan diskusi seru di Twitter mengenai nasib media konvensional (khususnya cetak) di tengah terjangan tsunami digital. Mbak Petty adalah Chief Community Officer (CCO) Femina. Saat pertama mengetahui jabatannya melalui kartu nama yang ia berikan, saya langsung kaget. Saya sudah membaca dan mendengar jabatan itu sejak lama dari majalah-majalah bisnis asing atau dari artikel-artikel di internet mengenai socmed dan community marketing. Tapi itu di Amerika, bukan di sini. Memang jabatan itu kini lagi hot-hot-nya di kalangan corporate America. Di Indonesia, seumur-umur saya baru melihat title itu ya di kartu nama mbak Petty. Saya pun langsung curiga: Ini title, title-title-an atau title sungguhan? Ngo
    Read More
  • 21

    Jan

    #TwitLeader

    #TwitLeader adalah sebutan yang saya berikan untuk para pemimpin di berbagai bidang dan sektor, yang menggunakan Twitter untuk berkontribusi dan membawa kebaikan bagi masyarakat. Mereka bisa CEO, manajer, atau wirausahawan di sektor bisnis. Mereka bisa politisi partai, anggota DPR, pejabat negara, atau akademisi di sektor publik. Mereka juga bisa aktivis LSM, aktivis gerakan sosial, pekerja sosial, seniman, intelektual, wartawan, mahasiswa, atau selebriti di sektor sosial-kemasyarakatan. Yang saya maksud pemimpin di sini tentu saja bukan hanya sebatas pemimpin sebagai posisi atau jabatan, tapi lebih mendasar lagi, sebagai kualitas personal. Mereka ngetwit dengan semangat keikhlasan untuk membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Mereka menjaga karakter dan perilaku aga
    Read More
  • 30

    Jul

    Employee Is Brand Ambassador

    Hari Kamis (26/7) lalu saya menghadiri acara peluncuran CD inflight music Garuda Indonesia (GI) bertajuk “The Sounds of Indonesia”, yang berisi lagu-lagu daerah Nusantara (mulai dari Rasa Sayange, Manuk Dadali, hingga Cublak-Cublak Suweng), yang ditata apik dalam format orkestra oleh Addie MS. Lagu-lagu ini awalnya hanya diputar di pesawat GI namun karena banyaknya permintaan konsumen, kemudian diproduksi massal dan didistribusikan di toko-toko CD untuk masyarakat luas. Di tengah acara tersebut saya iseng ngetwit. Saya kutip pernyataan pak Dirut, begini bunyinya: @yuswohady: Emirsyah Satar: “GI uniqueness is ‘proud of Indonesia’ thru Indonesian sound, sight, taste n touch of hospitality” #ExperientialMarketing. Selang dua menit kemudian belasan r
    Read More
  • 9

    Jul

    Perang Twitter Cagub

    Selama seminggu ini (artikel ini ditulis Sabtu, 7/7) iseng-iseng saya mengamati perang para calon gubernur (Cagub) DKI di ranah Twitter. Seru!!! Tapi sayang, banyak Cagub kita yang kurang bisa bermain cantik memanfaatkan para followers untuk membangun dukungan. Kenapa begitu? Pertama, karena aksi mereka di Twitter cenderung boring karena defisit kreativitas. Ya, karena isi twit mereka nggak jauh-jauh dari dua hal: retweet (RT) dan pengumuman agenda kampanye hari ini. Sebagai warga Twitterland mereka cenderung “karbitan” karena adanya dorongan “kejar tayang” (kayak sinetron stripping aja, hehe) menuju hari pencoblosan. Kedua, mereka blunder menganggap Twitter sebagai media untuk nge-blast pesan alias menyebarkan spam yang memuakkan. Aksi spamming mereka memb
    Read More
  • 9

    Apr

    Dicari: CEO Yang Ngetwit!

    Blog: http://www.yuswohady.com | Twitter: @yuswohady Beberapa hari lalu saya berkesempatan ngobrol dengan CEO (chief executive officer) salah satu perusahaan keuangan nasional terkemuka. Entah kenapa saya iseng tanya: Bapak punya akun Twitter? Jawab si CEO straight forward: tidak! Mendengar jawaban yang konfiden itu saya langsung menimpali: Kenapa tidak? Sejurus kemudian si CEO menjawab: Wah, kita-kita ini banyak urusan, nggak ada waktu untuk twitteran. Ungkapan di atas adalah jawaban tipikal yang diberikan oleh kalangan CEO perusahaan besar ketika ditanya apakah mereka menggunakan media sosial untuk berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan stakeholders. Memang saya tak punya datanya, namun dari pengamatan umum yang saya lakukan, sangat sedikit kalangan CEO perusahaan besa
    Read More
  • 20

    Dec

    Nasionalisme Konsumen

    Nasionalisme bukan hanya monopoli pejoang 45. Konsumen juga punya nasionalisme. Bahkan harus memiliki super nasionalisme ketika bangsa ini mulai merayap menjadi bangsa besar. Penduduk kita sudah mencapai 240 juta kelima terbesar di dunia, GDP kita telah mencapai Rp 7.500 triliun dan tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah kita melampaui angka ambang batas GDP/kapita $3000. Goldman Sachs bahkan memproyeksikan tahun 2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 4 terbesar di dunia. Bulan November-Desember ini saya banyak keliling di berbagai kota untuk memberikan seminar mengenai Marketing Outlook 2012. Satu hal yang saya tekankan di situ adalah optimisme bahwa kita bisa mengatasi dampak krisis Eropa yang sedang terkena penyakit kronis utang. Kenapa begitu? Karena keman
    Read More
  • 31

    Oct

    Giving

    By giving your knowledge you will become more knowledgeable. By giving happiness you will be happier. By giving money to others, you become more prosperous. Awalnya saya apriori dengan ungkapan di atas. Di mata banyak orang barangkali klise dan melankolis. Namun semakin saya rasa-rasakan, dari hari ke hari, tahun ke tahun, saya semakin menemukan keindahan dari ungkapan tersebut. Semakin Anda banyak memberi, maka (sudah menjadi hukum alam) semakin Anda akan banyak mendapatkan. Jika Anda banyak memberi ilmu kepada orang lain dan membuat orang lain tersebut makin pintar, maka pasti Anda akan semakin pintar. Jika Anda bahagia, dan kebahagian itu Anda bagikan kepada orang lain, maka pasti Anda akan lebih bahagia. Begitupun, jika Anda kaya dan banyak memberikan sebagian kekayaan tersebut kepad
    Read More
  • 17

    Oct

    :)

    : ) Adalah dua karakter huruf, yang paling sering saya tulis di Twitter. Setiap kali saya ucapkan terima kasih kepada follower, saya selalu tulis tx:). tx adalah bahasa Twitter saya untuk thanks. Setiap kali hari Jumat ada teman yang merekomendasikan saya untuk di-follow, yup folllow Friday (#FF), saya selalu balas dengan tx:) atau cukup :). Setiap kali ada teman yang me-mention saya dan memberikan konten yang menarik (quotes dari tokoh-tokoh hebat, tips, kultwit, dll.) saya selalu membalasnya dengan : ). Bahkan di setiap twit yang saya tulis sejauh mungkin saya menyematkan : ) di akhir twit. Barangkali kebanyakan tweeps menganggap remeh : ). Gampang saja, tinggal pencet : dan ), maka follower tahunya Anda sedang berbunga-bunga bertabur senyum. Bahkan ketika sesungguhnya Anda se
    Read More
  • 29

    Aug

    Laskar Pemudik

    Laskar pemudik sebagian besar adalah orang kampung (Klaten, Tegal, Wonogiri, Gunung Kidul, Gresik, Pasuruan) atau dari kota besar (Surabaya, Yogya, Solo, Semarang) yang mengadu nasib di Jakarta. Mereka bisa dari kalangan super-atas (presiden, menteri, anggota DPR dan partai, pengusaha konglomerat) tapi juga bisa dari kalangan super-bawah (buruh pabrik garmen di Cikampek, tukang batu musiman, penjual bakso di pasar Jatinegara, buruh panggul stasiun Gambir, atau tukang ojek di perempatan Cempaka Mas). Mereka begitu powerful. Bayangkan jika mereka sepakat mogok tak kembali lagi ke Jakarta nanti setelah lebaran, bisa dipastikan Jakarta akan lemas-lunglai kehabisan darah. Kehidupan ekonomi, sosial-budaya, politik Jakarta (dan Indonesia) praktis ditopang dan dikendalikan oleh kelompok
    Read More
- Next

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post