• 28

    Mar

    Confession of a Salesman

    Sudah hampir 15 tahun terakhir ini saya berprofesi sebagai salesman. Setiap hari pekerjaan saya mengukur jalanan dan berkubang dengan kemacetan Jakarta untuk menemui satu-persatu klien. Setiap kali ketemu mereka, saya menjadi tempat curhat dan menumpahkan seluruh persoalan. Persoalannya macam-macam: mulai dari market share yang tergerus; distribusi yang amburadul; brand yang mlempem; atau program pemasaran yang tumpul. Namanya saja menjadi curhat center, tentu saja banyak nggak enaknya, ketimbang enaknya. Ya, karena setiap persoalan yang ditumpahkan itu minta dicarikan pemecahannya. Tak jarang kalau solusi tak tersedia, mereka ngambek. Awalnya memang bikin stress. Tapi lama-kelamaan nikmat juga, karena dari situ biasanya kedekatan emosional di antara kami terjalin. Karena seti
    Read More
  • 27

    Aug

    Social Customer

    Social customer adalah konsumen jenis baru (lebih tepatnya saya sebut, “mutan” baru) yang muncul menyusul terjadinya dua revolusi: (1) revolusi konsumen kelas menengah, yes Consumer 3000. (2) revolusi media sosial. Konsumen baru ini memiliki dua ciri dan dua senjata. Ciri pertama mereka knowledgeable: tahu mendalam informasi apapun mengenai produk dan layanan yang hendak dibeli (thanks to mbah Google). Ciri kedua mereka terkoneksi (socially connected) dengan konsumen lain secara intens (thanks to social media). Kombinasi konsumen yang smart dan terkoneksi satu sama lain menghasilkan sosok konsumen yang sangat powerful dan disegani (baca: ditakuti) oleh setiap brand Senjata Pamungkas Social customer juga memiliki dua senjata pamungkas. Senjata pamungkas pertama adalah
    Read More
  • 30

    Jul

    Employee Is Brand Ambassador

    Hari Kamis (26/7) lalu saya menghadiri acara peluncuran CD inflight music Garuda Indonesia (GI) bertajuk “The Sounds of Indonesia”, yang berisi lagu-lagu daerah Nusantara (mulai dari Rasa Sayange, Manuk Dadali, hingga Cublak-Cublak Suweng), yang ditata apik dalam format orkestra oleh Addie MS. Lagu-lagu ini awalnya hanya diputar di pesawat GI namun karena banyaknya permintaan konsumen, kemudian diproduksi massal dan didistribusikan di toko-toko CD untuk masyarakat luas. Di tengah acara tersebut saya iseng ngetwit. Saya kutip pernyataan pak Dirut, begini bunyinya: @yuswohady: Emirsyah Satar: “GI uniqueness is ‘proud of Indonesia’ thru Indonesian sound, sight, taste n touch of hospitality” #ExperientialMarketing. Selang dua menit kemudian belasan r
    Read More
  • 2

    Jul

    Human Brand

    Kemunculan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan blog memberikan peluang yang luar biasa bagi marketer untuk “memanusiakan” merek (humanize brand). Dulu saat media komunikasi merek dengan konsumen didominasi oleh media-media satu arah (one-way media) dan media broadcast (TV, surat kabar, billboard, dll) maka merek menjadi layaknya sebuah “tembok” yang tidak bisa diajak bicara, tidak bisa bercanda, atau mendengar keluh kesah konsumen. Kini ketika media sosial seperti Facebook, Twitter atau blog hadir, merek tak hanya mampu berkomunikasi secara dua arah dengan konsumen, merek juga bisa membangun hubungan secara emosional/personal sehingga  sisi kemanusiaannya bisa terwujud secara utuh, natural, dan otentik (authentic). Melalui hubungan personal j
    Read More
  • 17

    Oct

    :)

    : ) Adalah dua karakter huruf, yang paling sering saya tulis di Twitter. Setiap kali saya ucapkan terima kasih kepada follower, saya selalu tulis tx:). tx adalah bahasa Twitter saya untuk thanks. Setiap kali hari Jumat ada teman yang merekomendasikan saya untuk di-follow, yup folllow Friday (#FF), saya selalu balas dengan tx:) atau cukup :). Setiap kali ada teman yang me-mention saya dan memberikan konten yang menarik (quotes dari tokoh-tokoh hebat, tips, kultwit, dll.) saya selalu membalasnya dengan : ). Bahkan di setiap twit yang saya tulis sejauh mungkin saya menyematkan : ) di akhir twit. Barangkali kebanyakan tweeps menganggap remeh : ). Gampang saja, tinggal pencet : dan ), maka follower tahunya Anda sedang berbunga-bunga bertabur senyum. Bahkan ketika sesungguhnya Anda se
    Read More
  • 5

    Oct

    Selling = Friendship

    More sales are made with friendship than salesmanship Ini adalah ungkapan menohok dari sales guru, Jeffrey Gitomer yang nempel dan terus mengiang-ngiang kuat di otak saya. Bahkan sejak sekitar 10 tahun lalu saat saya memutuskan untuk nyemplung di dunia penjualan, saya meyakini keampuhan ungkapan tersebut. Siapa bilang seorang salesman nggak butuh salesmanship. Siapa bilang seorang salesman nggak perlu keahlian dalam prospecting, presenting, negotiating, dan closing. Itu semua wajib dikuasai agar Anda menjadi sales superstar. Namun di atas itu semua, Anda harus melandasinya dengan selling mentality yang adiluhung yaitu: making friendship. Trust 1000% saya memercayai prinsip bahwa roh jualan adalah mencari teman dan membangun pertemanan, bukan sebatas menguasai teknik-teknik penju
    Read More
-

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post