• 19

    Jul

    Lebaran Narsis

    Saya sebut Lebaran narsis karena sejak 3-4 tahun terakhir Lebaran kita beda dengan Lebaran yang dulu-dulu. Kita-kita para mudikers kini kian terhubung satu sama lain oleh WA, Facebook, Twitter, Instagram, atau Path. Karena terhubung, maka inilah kesempatan emas bagi mudikers untuk sharing setiap detil aktivitas lebaran kita: mulai dari saat perjalanan pulang mudik, momen-momen berharga saat sungkeman dengan orang tua dan handai taulan, juga saat liburan lebaran bersama orang-orang tercinta. Narsis semasa Lebaran wow nikmatnya. Hanya dengan begitu para mudikers eksis. Dalam buku saya yang baru 8 Wajah Kelas Menengah (2015), di situ saya tulis bahwa kelas menengah kita kini kian socially-connected, artinya mereka selalu ingin terhubung dengan kerabat, teman, kolega, dan siapapun yang mereka
    Read More
  • 14

    Jul

    Mudik Itu...

    Mudik itu ya… bersilaturahmi bersama seluruh anggota keluarga di kampung. Sholat Ied bareng di masjid atau alun-alun. Sungkem dengan bapak-ibu dan maaf-maafan dengan sanak-kerabat agar kembali fitri. Kangen-kangenan dengan tetangga dan teman-teman di kampung setelah setahun tidak ketemu. Namun mudik tak cuma sekedar itu. Karena begitu istemewanya ritual setahun sekali ini, maka mudik punya 1001 makna dan cerita. Berikut ini adalah lima di antaranya, setidaknya menurut saya. Mudik itu Heroik Mudik adalah kesempatan langka yang terjadi hanya setahun sekali, karena itu segala upaya kita lakukan untuk mewujudkannya. Dengan semangat empat-lima mereka berdesak-desakaan ria di bandara, stasiun KA, atau terminal-terminal bis antar kota untuk bisa terangkut ke kampung. Bagi yang menggunaka
    Read More
  • 9

    Jul

    Masjidpreneurship

    Ide masjidpreneurship muncul dari percakapan saya dengan mas Yuli Pujihardi, Direktur Ekekutif Dompet Duafa suatu sore saat kami ngobrol di sebuah mal di bilangan Pejaten, Jakarta. Awalnya ngobrol ngalor-ngidul, tapi nggak tahu kenapa, ujung-ujungnya kami sampai pada ngomongin seru mengenai potensi masjid sebagai hub untuk pengembangan ekonomi umat. Saya surprise luar biasa, karena apa yang saya pikirkan selama ini mengenai peran strategis masjid ini rupanya nyambung dengan apa yang dipikirkan mas Yuli. Seperti diketahui, seiring dengan munculnya kelas menengah muslim yang begitu pesat di Indonesia, kini kehidupan masjid kian modern, terbuka, dan inklusif. Seperti saya tulis dalam bukuMarketing to the Middle Class Muslim, masjid kini tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan
    Read More
  • 28

    Jun

    Masjid Inklusif

    Dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim (kini terbit dalam edisi revisi 2015 dengan tambahan handbook) saya menuliskan bahwa menggeliatnya pasar kelas menengah muslim di Indonesia merupakan bagian dari sebuah perubahan besar dalam kehidupan keislaman di Indonesia. Bahkan saya menyebutnya sebagai kegairahan baru dalam peradaban Islam di Indonesia. Kenapa disebut demikian? Karena perkembangan positif kehidupan keislaman ini terjadi di berbagai bidang kehidupan mulai dari ekonomi dan bisnis, seni dan kebudayaan, pendidikan dan keilmuan, kegiatan dakwah, hingga gaya hidup. Salah satu fenomena menarik yang saya amati adalah kehidupan masjid yang kian modern, techy, dan inklusif. Artinya, masjid tak lagi hanya sekedar menjadi tempat untuk menjalankan kegiatan ibadah mahdhah tapi juga
    Read More
  • 5

    Oct

    Makin Kaya, Makin Memberi

    Hari-hari menjelang Hari Raya Idul Adha sekarang ini spirit of giving dari kaum muslim menggeliat luar biasa. Iklimnya kondusif untuk memberi. Hari Raya Kurban memang memiliki keunikan dibanding hari-hari raya lain. Kalau hari raya lain umumnya dirayakan dengan banyak berbelanja, maka hari raya satu ini justru dirayakan dengan banyak memberi. Wow!!! Merasakan geliat spirit of giving di Hari Raya ini, kami jadi teringat hasil survei Inventure awal tahun lalu mengenai perilaku konsumen kelas menengah muslim di Indonesia (salah satu hasilnya adalah buku baru kami: Marketing to the Middle Class Muslim). Satu hal yang melandasi riset tersebut adalah hipotesis adanya kecenderungan bergairahnya perilaku berzakat dan bersedekah di kalangan masyarakat kelas menengah muslim kita. Makin kaya, makin
    Read More
  • 24

    Sep

    Pasar Halal

    Dalam buku saya Marketing to the Middle Class Muslim, saya menyebut label halal dari MUI sebagai hot label. Kenapa? Karena kini label halal mulai digandrungi oleh konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Saya surprise luar biasa, karena survei yang saya lakukan di lima kota besar Indonesia menunjukkan 94% wanita kelas menengah muslim mengecek label halal sebelum mereka membeli kosmetik. Pasar halal mencakup kategori industri yang cukup luas. Di samping kosmetik, kategori yang lain adalah makanan dan minuman kemasan, makanan yang disajikan di hotel dan restoran, obat-obatan (halal medicine), jamu, hingga pertanian (halal farming) . Dengan cakupan yang luas, potensi pasar halal demikian menjanjikan. Pasar makanan halal dunia sangat besar dan tumbuh amat cepat. Menurut Thompson Reuter po
    Read More
  • 13

    Aug

    Connecting Muslim Customers

    Minggu ini saya masih menulis mengenai buku anyar saya Marketing to the Middle Class Muslim. Ya, karena geliat pasarnya memang mencengangkan dan respons pembaca terhadap buku itu luar biasa. Kali ini saya akan mengupas The Principle of Engagement dalam menyasar pasar muslim. Saya katakandi buku tersebut bahwa alat paling jitu untuk meng-engage konsumen muslim adalah melalui komunitas. The most powerful approach to engage muslim market is community marketing. Kenapa? Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan (shared purpose) yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Mereka juga memiliki kesamaan nilai-nilai (common values) dan perilaku (common behavior), yaitu nil
    Read More
  • 2

    Aug

    Spiritual Value

    Menjelang lebaran ini banyak teman-teman di berbagai kota yang minta sharing mengenai buku anyar saya Marketing to the Middle Class Muslim (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Praktis dalam seminggu ini sekalian mudik ke Yogya saya melakukan “safari Ramadhan” (hehe..) untuk sharing buku tersebut. Di awali di Jakarta, Bandung, Solo, dan terakhir kemarin malam di Yogya. Banyak berdialog dengan teman-teman di berbagai kota saya semakin yakin bahwa kelas menengah muslim (#MiddleClassMuslim) merupakan “the hottest market in Indonesia”. Ada dua alasannya. Pertama, karena market size-nya luar biasa besar. Kedua, karena perilaku mereka bergeser 180 derajat. Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia memang mengalami pergeseran nilai-nilai dan perilaku yang luar biasa dal
    Read More
  • 17

    Jul

    Marketing to Muslim

    Hari Jumat (11/7) lalu saya meluncurkan buku terbaru berjudul Marketing to the Middle Class Muslim (Gramedia Pustaka Utama, 2014) sekaligus diskusi di Executive Lounge PPM School of Management, Menteng. Hadir sebagai pembahas orang-orang hebat: Pak Samuel Pranata (Direktur Pemasaran, Martha Tilaar Group, MTG), mas Thoriq Helmy (Direktur, Dompet Dhuafa), mbak Diajeng Lestari (pendiri Hijaup.com), dan mas Wahyu Setyobudi (pakar pemasaran, PPM School of Management), dan dengan gayeng dimoderatori oleh mas Mohamad Civic (konsultan bisnis Syariah). Ki-ka: Moh. Civic, Sam Pranata, Wahyu Setyobudi, Thoriq Helmy, Yuswohady, Diajeng Lestari Seru sekali kami mendiskusikan dinamika perubahan konsumen muslim di tanah air, khususnya kelas menengah yang memiliki knowledge dan daya beli tinggi. K
    Read More
-

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post