• 5

    Sep

    Bioekonomi

    Di tengah rupiah yang kian tak berdaya dibantai Yuan dan Dolar saat ini, kesalahan semua ditumpukan pada impor kita. Semua-semua diimpor. iPhone terbaru diimpor. Mesin-mesin untuk PLTU Batang yang baru diresmikan diimpor. Bahan baku untuk pabrik obat diimpor. Itu barangkali masih dimaklumi. Namun rupanya daging sapi, beras, cabe, susu, kedelai, terasi, hingga garam pun ikutan diimpor. Tak masuk akal memang, negara dengan laut begitu luas dan memiliki garis pantai salah satu yang terpanjang di dunia kok bisa-bisanya garamnya impor. Tak Berdaulat Terus terang, gara-gara sedang mengerjakan riset dan menulis buku mengenai life science dan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, saya menjadi sensitif dengan persoalan ini. Bukunya berjudul “Life Science for Life” yang re
    Read More
  • 18

    May

    Empat Strategi Global Chaser

    Kolom saya minggu lalu membahas empat posisi strategis yang bisa dipilih oleh Global Chaser. Yang belum tahu, Global Chaser adalah perusahaan/merek Indonesia yang mampu menembus dan membangun daya saing di pasar global. Seperti diuraikan di kolom-kolom sebelumnya, saya akan menggelar event besar tahunan Indonesia Brand Forum 2015, tepat di Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei nanti di Balai Kartini. IBF tahun ini mengusung tema: Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia. Di situ akan tampil sekitar 25 merek Indonesia yang sukses di pasar global. Di kolom sebelumnya saya membagi empat posisi strategis Global Chaser yaitu: Export Co, OEM Co, Global Co, dan Glocal Co. Empat posisi tersebut diperoleh dengan mengacu pada dua parameter. Pertama, tingkat kemampuan perusahaan dalam me
    Read More
  • 15

    May

    4 Posisi Global Chaser

    Tanggal 20 Mei nanti bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, saya akan menggelar event besar Indonesia Brand Forum 2015 bertema Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia. Di situ saya akan menampilkan sekitar 25 merek-merek Indonesia yang membanggakan karena sukses menembus pasar global. Untuk mempersiapkan event tersebut saya melakukan riset hampir setahun untuk mengumpulkan merek-merek hebat tersebut, sekaligus menemukan rahasia sukses mereka menembus pasar mancanegara. Selama melakukan riset, pertanyaan yang terus mengiang di kepala saya adalah: bagaimana strategi yang harus dijalankan perusahaan Indonesia untuk going global? Nah, untuk memetakannya, saya mencoba mengembangkan sebuah model berupa matriks 22 seperti tampak pada gambar di bawah. Dengan menggunakan matri
    Read More
  • 6

    May

    Merek, Alat Perjuangan Bangsa

    Tanggal 20 Mei nanti saya memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan menggelar sebuah konferensi yang sarat dengan nilai-nilai kebangkitan nasional 1908. Acara tersebut saya sebut Indonesia Brand Forum (IBF). Di forum konferensi yang mengambil tema: Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia itu saya akan mengundang sekitar 25 merek Indonesia hebat dan membanggakan (seperti Mayora, Kalbe, Indofood, Pertamina Pelumas, Polygon, Martha Tilaar, Sido Muncul, atau Garuda Indonesia) yang sukses bersaing di pasar internasional. Dengan menghadirkan mereka berbagi kesuksesan, saya ingin menunjukkan bahwa bangsa ini perkasa di kancah dunia, bahwa Indonesia punya nyali dan bisa bersaing dengan bangsa-bangsa hebat lain di dunia. Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia bukan cuma bangsa y
    Read More
  • 19

    Feb

    Global Talent

    Selama enam bulan terakhir ini saya konsentrasi melakukan riset untuk penulisan buku terbaru Crafting Global Talents mengenai upaya Telkom melakukan go global. Upaya ini ditandai oleh dua mega program yaitu Internasional Expansion (disingkat InEx) dan Global Talent Program (disingkat GTP). Yang terakhir ini adalah sebuah program mencetak SDM berkualifikasi kelas dunia (global talent) melalui job assignment selama 3 bulan di luar negeri untuk mendapatkan global exposure dan global experience. Insya Allah buku ini terbit akhir bulan Februari ini. Seperti biasa, setiap kali buku mau “keluar dari kandungan”, saya selalu memberikan bocoran untuk dibagikan ke teman-teman pembaca. Ambisius InEx dan GTP punya posisi sangat istimewa dalam sejarah perjalanan bisnis Telkom. Kenapa
    Read More
  • 3

    Feb

    Jebakan Medioker

    Inilah yang banyak terjadi. Anda ingin hebat di semua hal. Kualitas nomor satu, harga paling murah, servis bintang lima, pelayanan super cepat, bla.. bla.. bla!!! Kalau betul Anda bisa semuanya maka yang terjadi kira-kira begini: kualitas Anda nomor 3; harga nggak murah-murah amat; servis so so bagus nggak, jelek juga nggak; dan dari sisi kecepatan yang pasti layanan Anda bukan yang nomor satu. Ujung-ujungnya produk Anda akan terjebak menjadi medioker alias produk rata-rata. Hebat nggak, tapi jelek juga nggak. Pasti Anda tak akan menjadi “The Great“, tapi juga bukan “The Bad“. Anda cukup puas dengan hanya menjadi “The Good” “The Mediocre“. Trade-off Ingat hukum alam: “you cant be great at everything“. Kalau kualitas Anda no
    Read More
  • 3

    Jun

    Aku Cinta Merek (Bukan Produk) Indonesia

    Dalam gelaran Indonesia Brand Forum (IBF), 20 Mei 2013 lalu, dalam sambutan pengantar, saya mengungkapkan bahwa sebagai anak bangsa kita harus cinta merek Indonesia. Saya tekankan di situ bahwa kita harus cinta merek Indonesia, tidak cuma sekedar cinta produk Indonesia. Yang tidak begitu peduli dengan pengertian merek dan produk barangkali akan menganggapnya sambil lalu saja. Lhah, produk dan merek kan sami mawon sama saja! Padahal dua kata itu memiliki pengeritan yang secara substansi berbeda, tentu dengan implikasi kebijakan yang berbeda pula. Karena itu dalam pengantar IBF tersebut saya menekankan bahwa kampanye cinta produk Indonesia yang pernah begitu gencar dikampanyekan di masa Orde Baru sesungguhnya mengandung pengertian yang misleading. Jangan salah, misleading ini bisa me
    Read More
  • 27

    May

    National Champion

    National Champion adalah pemain atau merek lokal yang memiliki keunikan lokal, sekaligus memiliki kapasitas setara dengan global best practices. Pemain-pemain lokal seperti Garuda Indonesia, BRI, Sosro, JNE, Prodia, Indomaret, Alfamart, Kompas, Tempo, dan Femina ada di posisi ini. Merek-merek lokal di posisi ini paling siap dalam menghadapi merek global secara head-to-head dengan cara membangun local differentiation. Garuda Indonesia misalnya, membangun local differentiation dengan menggunakan identitas Indonesia dalam strategi branding-nya. Garuda Indonesia juga mengembangkan konsep layanan Garuda Indonesia experience dalam inflight services-nya melalui sight, sound, scent, taste, touch yang bernuansa kekayaan budaya Indonesia. Seperti saya tulis di buku Beat the Giant, strategi
    Read More
  • 23

    May

    Kebangkitan Merek Indonesia

    20 Mei 2013 lalu, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, saya akan menggelar sebuah event akbar Indonesia Brand Forum (IBF) 2013. Gelaran bertajuk Kebangkitan Nasional Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia, ini merupakan event terbesar saat ini yang menampilkan merek-merek lokal yang siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan berjaya di pasar global. Event tahunan ini menampilkan Indonesia brand heroes seperti: Dahlan Iskan, Irwan Hidayat (Sido Muncul), Martha Tilaar, Emirsyah Satar (Garuda Indonesia), David Pendekar Bodoh Marsudi (DCost), Svida Alisjahbana (Femina Group), Dewi Muliaty (Prodia), Martin Wijaya (Sunpride), dan sebagainya. Mereka adalah sosok role model yang telah sukses membangun merek-merek hebat Indonesia. Bagi saya mereka adalah national heroes karena
    Read More
  • 17

    Feb

    Pendekar Bodoh

    Hari Jumat (15/2) lalu saya ketemu pak David Marsudi, presiden direktur jaringan restoran D’Cost. Orang satu ini luar biasa nyentrik-nya. Dia misalnya, menyebut dirinya sebagai pendekar bodoh (nama perseroan D’Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Kenapa? Karena, menurut dia, menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar,” ujarnya. Pada saat mau ketemu pak David, kebetulan saya melewati meja resepsionis dengan latar belakang logo D’Cost Academy, training center jaringan resto bersemboyan: “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” ini. Yang mengusik saya adalah tagline D’Cost Academy yang bunyinya menggelitik, “Stupid Guy
    Read More
- Next

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post