• 3

    Apr

    Brand of Shame

    Brand is a fragile thing. Saya sering menggambarkan brand layaknya sebuah guci dari jaman Mesir kuno. Guci tersebut tak ternilai harganya, namun begitu kita keliru menaruhnya dan tersenggol anak kecil dan kemudian pecah, maka guci tersebut seketika itu pula menjadi tak ada nilainya. Untuk membangun brand Anda butuh waktu bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan puluhan tahun. Namun oleh suatu kejadian tertentu, brand yang sudah terbangun demikian kokoh tersebut bisa hancur berkeping-keping. Upaya Anda belasan bahkan puluhan tahun bisa habis hingga ke titik nol bahkan minus dalam waktu semalam. Brand hebat dunia seperti Enron atau Arthur Andersen mengalami hal pahit ini di awal tahun 2000-an. Di masa jayanya, nilai pasar Enron pernah pernah mencapai Rp 750 triliun. Namun begitu skan
    Read More
  • 27

    Dec

    Brand Rakyat

    Go-jek dilarang! Kabar mengenai pelarangan layanan ojek online oleh Menteri Perhubungan itu mengagetkan kita semua pekan ini. Dalam sekejab para tukang ojek pun bereaksi keras. “Pemerintah tega banget. Kalau melarang, ini sama saja memutus rezeki banyak orang… Sebulan saya dapat minimal Rp 3 juta dari hasil nge-gojek. Kan lumayan besar untuk menyambung hidup,” kata Anang seperti dilaporkan Republika. Tak hanya tukang ojek yang kebakaran jenggot, praktis semua pihak menolak dan marah dengan keputusan Menteri Perhubungan tersebut. Mulai dari operator ojek online, netizen di Facebook dan Twitter, petisi di change.org, anggota DPR, bahkan Presiden. “Nanti siang saya akan panggil Menteri Perhubungan,” ujar Jokowi di Istana Bogor, Jumat (18/12). Menyusul pert
    Read More
  • 17

    Aug

    Branding Tujuh Belasan

    Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, tak hanya Jokowi yang sibuk berpidato di hadapan wakil rakyat atau pejabat negara yang melakukan upacara bendera di Istana Negara. Brand pun sibuk meyambut hari kemerdekaan dengan melakukan kampanye branding. Tujuannya dua. Pertama membangun citra dan reputasi yang baik sebagai warganegara (corporate citizenship). Kedua, agresif jualan dengan membesut beragam program sales promotion berlatar momentum hari kemerdekaan. Inilah yang saya sebut nationalism branding. Beberapa hari menjelang hari kemerdekaan ini saya mencoba melakukan riset kecil untuk mengumpulkan bentuk dan “modus operandi” bagaimana kampanye nationalism branding ini dilakukan oleh brand-brand hebat kita. Saya menemukan belasan bentuk dan format, namun mengingat te
    Read More
  • 3

    Feb

    Brand Bernama KPK

    KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah sebuah brand. Ingat, brand tak selalu harus produk. Brand tak hanya Starbuck atau Coca Cola. Brand juga bisa perusahaan (Apple atau Google adalah brand). Brand bisa orang (Justin Bieber atau Lady Gaga adalah brand). Brand bisa kota atau negara (Yogya atau Singapura adalah brand). Dan jangan lupa, lembaga pemerintah seperti KPK juga adalah brand. Sebagai sebuah brand, KPK adalah brand yang luar biasa hebat. Bahkan saya berani mengatakan KPK lebih hebat dari brand-brand hebat seperti Sosro, Indomie, atau Garuda Indonesia. Kenapa bisa begitu? Untuk menjelaskannya, saya menggunakan apa yang saya sebut tangga brand. Tangga Brand Tangga brand adalah sebuah tangga yang menggambarkan tingkat kehebatan sebuah brand. Tingkatan kehebatan brand tercermin dar
    Read More
  • 16

    Dec

    4 Pilar Pariwisata Indonesia

    Saya bungah ketika beberapa waktu lalu Pak Arief Yahya, sebelumnya direktur utama Telkom, diangkat Pak Jokowi sebagai Menteri Pariwisata. Kenapa? Karena saya kenal lama belia dan tahu betul dia adalah seorang marketer tulen. Saya kira kementrian ini butuh sosok yang piawai mengembangkan produk destinasi wisata, mengintegrasikan segenap stakeholders pariwisata (agen perjalanan, perhotelan, penerbangan, pengelola destinasi wisata, pelaku MICE, dsb) untuk memperkokoh daya saing, dan menciptakan kampanye branding pariwisata massif di seantero negeri. Dan Pak AY, demikian biasa dipanggil, cukup mumpuni untuk itu. Khusus mengenai kampanye branding, kita merindukan sebuah kampanye branding massif yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia seperti yang pernah digelar di era Orde Baru dengan kampany
    Read More
  • 3

    Oct

    Customer Voice

    Ada satu pelajaran yang harus dimengerti dan harus dipraktikan oleh para wakil rakyat (yang kemarin memberikan voting Pilkada tak langsung) dari sosok seorang marketer. Kualitas personal paripurna (ultimate) dari seorang marketer adalah kemampuannya mendengarkan suara-suara halus keinginan konsumen. Di dalam dunia marketing itu disebut, customer voice. Kualitas ini begitu penting sehingga saya berani mengatakan bahwa, listening to the voice of customer is marketers reason for being. Kehebatan paripurna seorang marketer bukanlah ditentukan oleh kemampuannya dalam jualan dan menawarkan produk. Bagi saya kehebatan paripurna seorang marketer adalah kemampuannya dalam mendengarkan keinginan dan harapan konsumen, dan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan, strategi, dan program yang pas un
    Read More
  • 7

    Sep

    Jokowi dan Kemandirian Brand

    Terus terang saya kecewa berat, sepanjang hampir 70 tahun perjalanan bangsa ini sejak merdeka, tak satupun presiden dan partai berkuasa yang punya kesadaran dan peduli pada pentingnya membangun brand lokal Indonesia. Tidak Soekarno, tidak Soeharto, tidak Mega, tidak juga SBY. Mana ada brand-brand lokal hebat seperti Sosro, Blue Bird, Santika-Amaris, J.Co, Tolak Angin, D’Cost, Sunpride, atau Mayora lahir dan besar karena support dari presiden atau partai berkuasa. No way! Kedaulatan Brand Kenapa saya kok ngotot presiden terpilih Jokowi dan partai berkuasa harus peduli brand lokal? Karena kedaulatan brand kita kini sedang di ujung tanduk. Dulu kita begitu kenyang 350 tahun dijajah bangsa asing. Maka kini, kita juga bakal kenyang dijajah brand-brand asing. Coba saja lihat di kamar ma
    Read More
  • 1

    Sep

    Brand as a Movement

    Membangun brand kini tak cukup hanya pakai iklan dan promosi. Bahkan membangun brand dengan iklan kini sudah dianggap jadul, boring, dan tidak keren. Yang sedang cool sekarang adalah membangun brand sebagai sebuah movement, kata teman saya @Handoko_H, penulis buku hebat Brand Gardener. Movement bisa menjadi cool factor bagi sebuah brand, ujarnya. Movement bisa menjadi unsur pembeda (differentiating factor) bagi sebuah brand dibanding pesaingnya. Apa itu brand as a movement? Sebelum sampai ke situ, saya ingin melihat tantangan-tantangan bisnis terkait dengan persoalan-persoalan sosial di masyarakat. Persoalan sosial kemasyarakan saat ini kian memprihatinkan mulai dari persoalan kemiskinan, kesehatan, infrastruktur, kemacetan, korupsi, hingga degradasi lingkungan. Celakanya, biang
    Read More
  • 24

    Feb

    Personal Branding Keblinger

    Beberapa bulan terakhir saya sering mual-mual menyaksikan polah-tingkah para caleg dan capres kita yang neko-neko untuk memenangkan kursi kekuasaan baik di DPR maupun pemerintahan. Di koran-koran, di TV-TV, di jalan-jalan, di gang-gang kampung kumuh, para caleg/capres ini berebut kavling untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat pemilih. Di spanduk-spanduk dan baliho-baliho senyum mereka menyeringai. Mengepalkan tangan menyuarakan panji-panji kebajikan: “Berantas korupsi!!! Enyahkan kemiskinan!!! Galang persatuan!!!” Di TV-TV mereka layaknya malaikat: meyambangi kaum papa, berorasi mengenai kejujuran dan kemuliaan, menyuarakan hati bening dan keikhlasan. Di tengah banjir Jakarta mereka mengulurkan tangan dan menyumbang. Sungguh segepok kebajikan yang membikin peru
    Read More
  • 10

    Feb

    CSV

    Tak bisa disangkal lagi bahwa bisnis merupakan salah satu biang dari kian kurusnya bumi dan turunnya kualitas lingkungan; musabab segepok problem sosial dari kesehatan, pendidikan, hingga korupsi; juga kontributor persoalan-persoalan ekonomi dari kemiskinan hingga ketidakberdayaan masyarakat tertinggal. Coba saja lihat “dosa-dosa” dunia bisnis. Yang bisnis minyak dan batu bara menguras kekayaan dari dalam bumi tanpa mengenal ampun. Yang bisnis rokok dan minuman bersoda menjadi biang kompleksitas masalah kesehatan. Yang bisnis properti membabi-buta membangun gedung dan perumahan yang menjadikan Jakarta tenggelam. Yang bisnis mobil-motor memicu kemacetan dan polusi yang bikin stres semua orang. Ketika kini persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan merajalela di masyar
    Read More
- Next

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post