Facebook, Freeport

6 Dec 2015

Apa hubungannya Facebook dengan Freeport?
Pekan ini saya seperti disamber geledek membaca dua berita di koran. Yang pertama membuat saya bungah luar biasa, sembari terenyuh. Yang kedua membuat sedih luar biasa, sambil mengelus dada, amit-amit jabang bayi. Satu mengenai Facebook, kedua mengenai Freeport.

Money Greedy

Bersyukur, Bersyukur, Bersyukur
Berita pertama datang dari Mark Zuckerberg CEO Facebook yang akhirnya resmi menjadi seorang ayah karena kelahiran anak pertamanya buah perkawinan dengan Priscilla Chan. Merasa bersyukur dengan kelahiran putri pertamanya Max, pasangan ini memutuskan untuk melakukan hal yang sangat mulia, yaitu mendonasikan 99% sahamnya di Facebook yang ditaksir mampu mencapai angka US$ 45 miliar, sekitar Rp 600 triliun.

So sweet, niat mulia ini disampaikan melalui sebuah postingan di Facebook, sebuah surat untuk anaknya. Begini salah satu penggalan bunyi suratnya:

For your generation to live in a better world, there is so much more our generation can do. Today your mother and I are committing to spend our lives doing our small part to help solve these challenges.”

Mark dan istri, menutup suratnya dengan kalimat yang membuat saya terenyuh:

Max, we love you and feel a great responsibility to leave the world a better place for you and all children. We wish you a life filled with the same love, hope and joy you give us. We can’t wait to see what you bring to this world.”

Tercermin dari surat itu rasa syukur, syukur, dan syukur karena pasangan ini diberi momongan dan harta berkelimpahan. Dan sebagai bentuk syukur itu mereka kembalikan harta berkelimpahan itu untuk sesama agar dunia menjadi lebih baik. Dunia dimana tak ada lagi anak-anak buta huruf, anak-anak kelaparan, dan anak-anak yang terjangkit wabah penyakit.

Tamak, Tamak, Tamak
Berita kedua datang dari Freeport, perusahaan yang tak kenal capek membawa masalah bagi negeri ini. Seluruh rakyat bangsa ini dari Sabang sampai Merauke awal pekan ini mengelus dada, prihatin, sedih mendengar rekaman percakapan orang-orang yang, mengacu posisi dan jabatannya, seharusnya berperilaku sangat mulia, tapi sebaliknya bertingkah sangat tidak mulia.

Mendengar rekaman di MKD terus-terang hati saya meradang. Saya tidak terima negeri ini dirampok oleh segelintir orang-orang selfish yang mengorbankan nasib bangsanya demi agar mereka bisa hepi-hepi, main golf sambil ketawa-ketiwi, dan membeli private jet. Tega-teganya orang-orang terhormat itu memperdaya 250 juta rakyat Indonesia untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya demi kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatan duniawi.

Mereka hepi-hepi di lapangan-lapangan golf di tengah penderitaan masyarakat Papua yang kian miskin dan terbelakang. Mereka berpesta-pora dengan kekayaan triliunan rupiah di tengah orang-orang seperti Susanto, warga Banten, yang terpaksa berniat menjual ginjalnya ke Presiden karena miskin tak punya uang untuk operasi anaknya. Bagaimana bisa orang-orang terhormat yang harusnya mengayomi rakyat, justru memperdaya rakyatnya.

Sehari setelah pemutaran rekaman tersebut Wakil Presiden berpidato di gedung DPR. “Orang yang disebut dalam rekaman tersebut bukan orang miskin, bisa makan empat kali sehari. Tapi karena keserakahan, maka itu terjadi,” ujarnya. Itulah manusia, mahluk Tuhan yang tak pernah merasa puas. Waktu miskin dikasih Tuhan seribu perak nggak cukup minta sejuta. Dikasih sejuta minta semiliar. Dikasih semiliar minta setriliun. Celakanya, makin kaya kita bukannya makin bersyukur, tapi makin serakah: makin merasa kurang, makin merasa miskin.

So, pekan ini saya mendapat pelajaran amat berharga mengenai keserakahan dan kebersyukuran. Di tengah keserakahan orang menimbun kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatan duniawai seperti tercermin dalan rekaman di MKD, ternyata masih banyak orang-orang yang bersyukur seperti tercermin dalam surat Mark kepada anaknya.

Saya beruntung hati saya tak jadi arang. Mendengar rekaman di MKD hati saya terbakar: marah, dongkol, geregetan. Namun untung, kemudian ada surat Mark yang meneduhkan. Dengan begitu hati saya mak nyesss serasa dilumuri es. Kalau saya tak membaca surat Mark, barangkali hati saya sudah menjadi arang.

 

Photo credit: Money Greedy. N.d. Photograph. The Unbounded Spirit


TAGS Mark Zuckerberg Setya Novanto Freeport


-

Author

Managing Partner, Inventure

Search

Recent Post