“Andai Aku Jadi Gayus”
Semua pembaca tentu tahu judul tulisan ini adalah lagu yang paling top saat ini di Tanah Air. Sejak di-upload di YouTube seminggu lalu, lagu ini melejit bak meteor. Ditulis dan dinyanyikan seorang mantan napi, Bona Paputungan, lagu ini meroket karena mengusung lirik lagu yang sarat kritik sosial dan penuh kehebohan. Wajar saja karena saat lagu itu di-upload di YouTube Gayus “sang superstar” Tambunan yang menjadi obyek lagu sedang menuai puncak kehebohan. Ya, karena seiring dengan “demam unduh” klip lagu itu di YouTube, hakim menjatuhkan putusan super kontroversial.
Saya bukan anggota satgas pemberantasan mafia hukum yang suka nabrak-nabrak pagar. Saya bukan pengamat politik yang suka nglantur dan sok pintar. Saya juga bukan politikus Senayan yang hobinya bikin pansus dan nampang di talkshow TV-TV nasional. Saya nggak ngerti politik, saya hanya ngerti marketing. Karena itu tulisan ini tak bermaksud memperuncing seteru antar kelompok kepentingan yang ramai-ramai menunggangi kasus Gayus. Tulisan ini hanya mencoba menarik secuil pelajaran dari heboh klip “Andai Aku Jadi Gayus”. Ya, karena begitu banyak pelajaran marketing yang bisa kita tuai dari heboh klip tersebut. Berikut ini pelajaran-pelajarannya.
#1. World-Famous in 15 Minutes
Tahun 1968, Andy Warhol, pelukis pop culture paling kesohor, pernah membuat ungkapan yang legendaris, “In the future, everyone will be world-famous in 15 minutes,” ujarnya. Ketika Warhol mengucapkan itu, tak sebersitpun terpikir di kepalanya sebuah situs bernama YouTube. Tapi seperti kita saksikan bersama, ramalan Warhol itu kini terwujud. Siapapun Anda bisa menjadi terkenal hanya dengan modal kamera genggam dan sedikit kreativitas. Perangkat media sosial seperti YouTube memungkinkan siapapun — tua-muda, kaya-miskin, bahkan seorang mantan napi — untuk menjadi maha bintang. Bagi marketer, ini adalah peluang branding yang luar biasa. Dan seorang Bona Maputungan mampu memainkannya dengan sangat cantik.
#2. Natural-Born Marketer
Bona adalah natural-born marketer. Ia begitu jeli memanfaatkan keadaan dan menggali peluang. Di tengah keterhimpitan dan keterpurukan sebagai napi ia mampu make difference dengan mengeksplorasi kreativitas. Kejelian Bona “menunggangi” kehebohan kasus Gayus bagi saya adalah sebuah kreativitas yang luar biasa. Dan perlu di ingat, the cornerstone of marketing is creativity. Marketer hebat bukanlah ditentukan oleh kemampuan dia menguasai teknik-teknik marketing/selling. Bukan pula ditentukan oleh kemampuan si marketer merancang kampanye ATL-BTL yang integrated. Tapi oleh kemampuannya berkreativitas-berinovasi, think out of the box, dan always be different. Marketing is about creativity and make difference.
#3 Heal Customer’s Anxiety and Desire
Walaupun tak pernah belajar market research atau etnografi, namun Bona jeli menangkap suara hati alias anxiety-desire dari kebanyakan masyarakat kita yang mengalami defisit rasa keadilan. Defisit ini demikian parah hingga menjadi penyakit akut mendera kita demikian lama. Ketika anxiety-desire itu terwakilkan dalam bait demi bait lagu “Andai Aku Jadi Gayus” maka kita semua merasakan sakit akut itu seperti tersembuhkan walau sesaat. Ia menjadi “hero” bagi kita semua karena mampu secara pas memotret kebobrokan negeri ini dengan bahasa rakyat kebanyakan yang sederhana, lugas, tapi menohok. Ini kontras dengan bahasa politisi dan pakar politik partisan yang njlimet, pekat kepentingan, dan membingungkan. Ungkapan-ungkapan lugas “Andai Aku Jadi Gayus” adalah oasis yang lama kita rindukan.
#4 Momentum Is Very Important
Heboh “Andai Aku Jadi Gayus” juga memberikan pembelajaran bagi kita para marketer mengenai pentingnya momentum. Kehadiran klip itu di YouTube terjadi di momen yang tepat, yaitu ketika kasus Gayus berada di puncak kontroversi. Tak heran jika kemudian stasiun TV bergiliran mengundangnya; koran-koran mengulasnya; dan seperti dikomando para pengamen di mikrolet-mikrolet menyanyikannya. “Now or Never,” kata Elvis Presley. Namanya saja momentum, kalau Anda tidak memanfaatkan di saat yang tepat, maka barangkali sampai kapanpun Anda tak akan mendapatkannya. Kolom ini juga memanfaatkan momentum. Kalau kolom ini ditulis sebulan lagi, saya yakin Anda membacanya tak akan seantusias sekarang. Sengaja kolom ini memang menunggangi “Andai Aku Jadi Gayus”. Momentum marketing menuntut si marketer memiliki kejelian melihat peluang, kepiawaian dalam memilih saat yang tepat, dan kecepatan melakukan eksekusi.
#5. Brand Story Is Much More Important Than the Brand Itself
Salah satu kunci sukses “Andai Aku Jadi Gayus” adalah adanya “cerita” di balik klip menghebohkan tersebut. Cerita itu secara pas dikemas dalam bait-bait lagu dan alur gambar video klip yang dibikin seadanya oleh sang penyanyi. Cerita yang ada dalam lirik lagu dan potongan-potongan video klip itu merupakan true story yang membawa kesan yang lebih mendalam bagi pendengarnya. Brand story di balik lagu itu tentu saja tak terbatas di situ. Yang justru menghebohkan adalah cerita yang melatarbelakangi ide lagu tersebut, yaitu cerita kontroversi kasus Gayus yang membikin otak kita mendidih. Jalinan cerita yang menyelubungi lagu “Andai Aku Jadi Gayus” merupakan elemen terpenting dari brand building lagu tersebut.
#6. Buzz… Buzz… Buzz
Media sosial (social media) seperti YouTube, Facebook, atau Twitter adalah alat ampuh untuk menyebar buzz dan viral. Karena itu begitu klip lagu tersebut di-upload di YouTube, dalam sekejap klip tersebut menyebar seperti wabah dari akun Facebook satu ke akun Facebook lainnya; dari akun Twitter satu ke akun Twitter lainnya; dari ring back tone ponsel satu ke ring back tone ponsel lainnya. Seperti halnya gosip, apapun yang mengandung cerita kontroversial (brand story) selalu mudah berpindah dari satu mulut ke mulut berikutnya (word of mouth). Ingat mitos Mbah Marijan dan Gunung Merapi yang menyimpan beragam cerita dan misteri. Tak heran jika Mbah Marijan kemudian memicu word of mouth luar biasa. Dalam buku saya CROWD: Marketing Becomes Horizontal saya menulis: “Your most powerful salesmen are your customers”. Siapa yang menjadi salesmen paling ampuh bagi “Andai Aku Jadi Gayus”? Tak lain adalah kita-kita semua, para customer lagu tersebut..
Mari belajar dari “Andai Aku Jadi Gayus”
January 23rd, 2011 at 18:18
Mantab Mas tulisannya!
Kita bisa belajar dari mana saja ya memang..
January 24th, 2011 at 07:02
Maknyuzz bang!
January 24th, 2011 at 11:40
kadang orang jahatpun ternyata bisa jadi inspirasi……
Berpikir positif itu mencari celah kebaikan di antara segudang keburukan
January 24th, 2011 at 11:53
Liriknya & lagunya enakkkkkk
Setuju… simpel dan merakyat
January 24th, 2011 at 13:11
yang buat lagu sangat tahu momentum. mantap tulisannya. lihat juga sekilas tentang Gayus
January 24th, 2011 at 14:33
Bisa saja nih nulis artikelnya, kalau Bona dapat lagu, kalauYuswohady dapat artikel, he 3x. Salam ilmuflora.
Bona menunggangi Gayus; saya menunggangi Bona mas… saling menunggangi, memanfaatkan momentum
January 24th, 2011 at 15:01
kreatif banget artiklenya…
ikutan kreatif kayak Bona mas
January 24th, 2011 at 15:46
Nggak pengen ah jadi gayus..
Lebih baik hidup lurus.
January 24th, 2011 at 17:55
good article….
January 24th, 2011 at 22:39
ketidakadilan di Indonesia bisa dilihat dari kasus mafia pajak… yang aneh menurut saya, koq gayus terus yg disalahkan… ingat dia masih ada atasan dan tunggangan yg skrg ini masih berkeliaran dan mencari sosok pengganti gayus…
January 25th, 2011 at 06:30
setuju…
January 25th, 2011 at 08:49
lagu dan iramanya enak di dengar
January 25th, 2011 at 10:16
dengan lagu itu pejabat harus bersikap adil
January 25th, 2011 at 13:32
Kalau semua jadi gayus….
Apa kata Dunia ……
Salam …
January 25th, 2011 at 15:33
suka banget mas, thanx pencerahan marketingnya
Sip mbak
January 25th, 2011 at 17:21
ok pak inspiraing, ayo majulah marketing Indonesia…
January 26th, 2011 at 06:36
mantab mas……
lagunya juga mantab banget….hehe….
January 26th, 2011 at 09:12
kreatif tif..tif..tif..good job….. good blog
January 26th, 2011 at 17:37
Setelah gayus tambunan, gayus apalagi yang tampil sebagai aktor serial laga perpajakan
January 27th, 2011 at 09:08
kerenzz…
nice post
January 27th, 2011 at 11:08
Gayus itu harus dihukum berat, tapi tolong juga itu pejabat-pejabat yang lebih tinggi pula. Lihatlah, anak-anak sekarang banyak terkontaminasi, mudah dialihkan dan banyak juga yang pandai berbohong, seperti pejabat dan presiden sekarang. Apa-apaan menganalisis dan berteori caranya mbikin crop circle. Pikirkan, Nak, negaramu dan pemimpinmu. Kemana presiden membawa negeri dan bangsamu, Nak. Lihat halaman depan Kompas hari ini (27 Januari 2011). Prostitusi remaja di Jakarta. Tapi presidennya suka kok jalan-jalan ke luar negeri. cihuiii … tujuh remaja berumur 13-16 tahun di kelurahan Manggarai, kecamatan Tebet, Jaksel, masuk jaringan prostitusi dimotori tetangga mereka, Dede. Dede menghubungkan remaja ini dengan pemesan. Kegiatan ini terbongkar polisi. Dede dijadikan tersangka. Kita lantas bertanya-tanya maraknya busung lapar di Nusa Tenggara, idiot sekampung di Balong yang menjadi-jadi dll, pasti ada hubungannya dengan pemerintahan SBY. Jelas semua akibat kemiskinan yang dibiarkan menjadi-jadi oleh presiden. Jangankan hukum dibenahi. Ekonomi saja tidak. Mereka perlu makan, perlu sekolah, perlu kuliah gratis atau murah. Di negeri ini semuanya mahal. Presiden tidak pernah memikirkan rakyatnya. Cihuiii enak jalan-jalan terus ke luar negeri. Presiden semalam di Zurich, Swiss, sebelum ke Davos. Beserta rombongan tiba di Bandara Internasional Zurich, Rabu (26/1/2011) pukul 9 malam. Enak jalan-jalan ke luar negeri, gratis, semua dibayar negara dapat bonus lagi. Gaji pokok tetap utuh, masih akan dinaikkan juga tahun depan. Ada koin untuk presiden lagi. Kenapa presiden itu cuek, tidak pernah mikirin rakyat, ada apa rupanya, kacau kali. (Ibu Lina Hutabarat).
January 27th, 2011 at 12:25
ahhaaa.. bagu bagus bagus… perlu orang2 seni untuk berani berkarya seperti itu
January 27th, 2011 at 13:55
Waktu lalu muncul spanduk menghujat Din Syamsuddin oleh Gadis (Gerakan Anti Din Syamsuddin) di depan gedung DPR. Hari ini (27 Januari 2011) ada spanduk mendukung SBY: “Jangan ganggu SBY Bekerja”. Ini seperti dulu ketika Suharto mau jatuh. Ada kelompok-kelompok pendukung seperti itu.
January 27th, 2011 at 13:56
Spanduk itu bunyinye: Jangan ganggu SBY Bekerja. Emangnye SBY bekerje. Bukannye die cumin bicare. Atau suke ngalihkan isu. Atau suke banget jalan-jalan ke luar negeri ye?
Hehehehe…
January 27th, 2011 at 13:57
Persis seperti masa Orba dahulu. Waktu itu muncul banyak sekali gerakan-gerakan pendukung Suharto sebelum akhirnya dia mau tidak mau akhirnya lengser. Gerakan itu akhirnya mendatangkan gerakan-gerakan masif anti status quo yang waktu itu dimotori tokoh inteletual akademisi yang berani yaitu Amien Rais berserta kawan-kawannya. Gerakan rekayasa apapun biasanya kalah dengan gerakan lebih masif yaitu gerakan hati nurani mahasiswa dan rakyat. Jangan-jangan ini akan terjadi terhadap pemerintahan sekarang. Karena kelaparan, kemiskinan, kemuakan dan lainnya seperti yang sekarang terjadi di Tunisia, Mesir dan Yaman, meski kasusnya agak berbeda. Siapa yang bisa menahan orang-orang kelaparan. Dipicu sedikit pasti akan menyala.
Great analysis… tapi saya kira di Indonesia demokrasi sudah sangat bagus lima tahun terakhir. Jadi kalaupun SBY lengser tidak akan seperti yang terjadi di Mesir
January 27th, 2011 at 14:52
KALAU ADA KOMEN JANGAN MAIN HAPUS, MONYET !!!!
Mantan Chief Executive Officer (CEO) Google Inc Eric Schmidt baru saja diberi “pesangon” sebagai ucapan terima kasih atas jasanya mengurus Google Inc selama ini. Hal itu disampaikan pihak Google, Senin (24/1/2011) di sela-sela proses pengurusan dokumen legalnya.
Pesangon tersebut bukan uang tunai. Tambahan hak kekayaan yang akan diberikan kepada Eric Schmidt tanggal 2 Februari 2011 tersebut berupa stock option, tambahan hak kekayaan (equity) senilai 100 juta dollar AS.
Sesuai dengan dokumen legal yang dilaporkan ke Security Exchange Comission, minggu lalu, Schmidt sesungguhnya telah mengantongi saham Google sekitar 9,2 juta dollar AS per 31 Desember 2010. Jumlah itu setara dengan 2,9 persen saham Google secara keseluruhan dengan hak suara 9,6 persen saja.
Sebelumnya, Schmidt berencana menjual 534,000 saham kelas A miliknya. Jika dia benar-benar akan melakukan itu, dia masih menyisakan sekitar 9,1 persen hak suara di Google. Harga saham Google Inc terakhir 613,15 dollar AS per lembar.
Trims infonya
Dengan pemberian equity (stock option) baru ini Google sesungguhnya mengakui kinerja Schmidt dengan cara mengangkat nilai brand Google sekaligus menambah kekayaan pribadi Schmidt. Bisa dikatakan ini taktik yang bagus dari Larry Page, pendiri Google, yang kini mengambil alih posisi CEO Google.
Schmidt sendiri masih akan tetap di Google sebagai executive chairman. Selama 10 tahun di Google sejak menjadi CEO tahun 2001, Eric memang berperan sekaligus sebagai mentor bagi dua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Kini muridnya mungkin siap beraksi sendiri.
January 27th, 2011 at 15:52
i like it…. hehehehe
January 29th, 2011 at 21:21
Bener juga kata Bang Napi :
“Kejahatan bukan hanya ada karna ada niat pelaku, tapi juga karna ada kesempatan”
Waspadalah…Waspadalah !!!
^_^ funny pictures
Agree!!! Waspadalah!!! Waspadalah!!! Waspadalah!!!
January 31st, 2011 at 15:08
atasannya Gayus yaitu Dirjen Pajak dan para mantannya kan rata-rata punya properti segudang. duit bejibun. emas ber-kg.
jadi emang bener kalo motto pajak sudah sejak lama berganti jadi :
BAYARLAH PAJAKNYA IKHLASKAN PENYELEWENGANNYA.
jangan lupa masih ada jabatan mirip atasannya Gayus: Dirjen Bea Cukai, Dirjen Imigrasi yg semuanya sdh berseragam DIRJEN PENILEP UANG RAYKAY
February 2nd, 2011 at 09:12
gayus kn punya banyak duit,,,ak pgn jadi gayus yang banyak duit tapi dengan cara halal,,,ni yg pgn jadi gayus tapi cara halal…
http://caradapatdollardengangoogleadsense.blogspot.com/
February 2nd, 2011 at 17:09
Mas…punya ide nih…
gmn klo bikin lagu..
judul nya Andai Gayus adalah aku^_^
mungkin lagu nya bakalan meledak (Bom klaee) di pasaran.
from: Free Backlink
February 4th, 2011 at 18:18
Betul mas, tinjauan yang kreatif
February 5th, 2011 at 22:53
Andai gue jadi Gayus. Akan gue beli detik.com & langsung gue tutup
February 6th, 2011 at 00:14
bagus…
mantap…
kalau ada waktu kunjugi blogku ya
http://edyirawannasution.blogspot.com
February 28th, 2011 at 12:12
dah jadi bintang iklan rokok tuh..
hmm copywriternya siapa ya..he he..
October 27th, 2011 at 07:54
Pak, anda sering mengutip Warhol sbb:
In the future, everyone will be world-famous in 15 minutes
Setau saya, seharusnya ‘…famous for 15 minutes’ dan bukan ‘in’. Beda arti yang cukup mendasar.
Yes. Thanks banget mas, kurang teliti.
April 23rd, 2012 at 12:08
artikelnya bagus banget mas, oh ya, di tunggu blogwalking nya balik ya ke blog saya http://www.budiutomo.com